Kalau demikian, ketika aroma hadir melalui sesuatu yang dihisap, pertanyaan kita bukan pertama-tama apakah bentuk itu sama dengan dupa. Jelas tidak sama. Pertanyaannya: apakah ada pengalaman jeda, keteraturan napas, dan pemusatan perhatian yang hendak dibangun di sana? Lalu, apakah bahan, proses, maksud, serta batas klaimnya dapat diterangkan secara terbuka? Di situlah kewarasan dimulai.
Kita tidak perlu memilih antara dua kubu yang sama-sama melelahkan. Kubu pertama meminta orang percaya tanpa bertanya. Kubu kedua menolak sebelum memeriksa. Yang satu menjadikan misteri sebagai dagangan. Yang lain menjadikan sinisme sebagai tanda kecerdasan. Padahal kecerdasan yang matang tidak gampang terpukau dan tidak gampang mencibir. Ia mendengar, menelusuri, membandingkan, lalu mengambil sikap.
Ruang Tengah Bernama Metafakta
Pendekatan baru yang dibicarakan dalam tulisan ini berusaha berdiri di ruang tengah itu. Bahannya dapat disebutkan. Alasan pemilihannya dapat dijelaskan. Pengalaman pengguna boleh diceritakan, tetapi tidak dijadikan bukti medis yang melampaui batas. Tradisi boleh menjadi akar, namun akar tidak dipakai sebagai alasan untuk menghindari pertanggungjawaban.
Ada satu hal yang menarik: ritmenya. Tarikan dilakukan perlahan. Ada sela sebelum hembusan. Dalam sela yang singkat itu, tubuh seperti memperoleh izin untuk tidak terburu-buru. Mungkin hanya beberapa detik. Tetapi bukankah hidup sering berubah bukan karena kita memperoleh waktu berjam-jam, melainkan karena kita sungguh-sungguh hadir dalam beberapa detik yang tersedia?
Di titik inilah jalan lama dan jalan baru bersalaman. Jalan lama membawa pengalaman lintas generasi. Jalan baru membawa tuntutan keterbukaan. Yang lama mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dari penjelasan. Yang baru mengingatkan bahwa pengalaman tidak boleh kebal terhadap pertanyaan. Keduanya akan saling menolong apabila tidak sibuk merasa paling suci atau paling ilmiah.
Bentuk baru itu bernama Sehat Tentrem, lahir dari Jombang sejak 2013. Ia tidak datang dari ruang hampa. Ia tumbuh di lingkungan budaya yang mengenal doa, tirakat, kebersamaan, kerja, dan simbol. Karena itu ungkapan “nafas perjuangan” tidak semata-mata dibaca sebagai kalimat merek. Ia mengandung gagasan bahwa perjuangan bukan hanya berlangsung di panggung-panggung besar, tetapi juga pada kemampuan manusia mengatur dirinya di dalam satu tarikan napas.



Tinggalkan Balasan