Militer AS bersiap menduduki Pulau Kharg demi membuka Selat Hormuz.
KOSONGSATU.ID – Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan tengah mematangkan rencana operasi militer darat. Sasarannya adalah menduduki atau memblokade Pulau Kharg secara fisik.
Langkah drastis ini dipicu oleh aksi Iran yang memblokade Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Penutupan jalur pelayaran krusial tersebut telah melumpuhkan rantai pasok global. Harga minyak dunia langsung melonjak tajam. Kini harganya menyentuh level $100 per barel.
Kondisi ini memaksa Washington mengambil opsi militer tingkat tinggi.
Laporan investigasi Axios pada 20 Maret 2026, yang mengutip empat sumber internal pemerintah, mengungkap bahwa pengiriman pasukan darat sedang dipertimbangkan serius. Gedung Putih tidak membantah kabar tersebut. Mereka justru menegaskan kesiapan militer secara terbuka.
”Militer Amerika Serikat dapat melumpuhkan Pulau Kharg kapan saja jika Presiden memberikan perintah. Berkat proses perencanaan yang mendetail, seluruh elemen pemerintahan siap sedia untuk tindakan potensial apa pun yang diambil oleh rezim teroris Iran,” ujar Anna Kelly, Principal Deputy Press Secretary Gedung Putih, dalam keterangan persnya pada 20 Maret 2026.
Mengincar Jantung Minyak Iran
Pulau Kharg bukanlah target sembarangan. Pulau seluas 20 kilometer persegi ini sangat vital bagi Teheran. Sekitar 90 persen dari total ekspor minyak mentah Iran dikendalikan dan diproses di fasilitas ini.
Sebelum rencana invasi darat mencuat, pasukan AS telah melancarkan serangan udara presisi pada 13 hingga 14 Maret 2026. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan lebih dari 90 target militer Iran hancur lebur. Armada laut AS juga telah menenggelamkan lebih dari 40 kapal penebar ranjau Iran.
Meski pangkalan militer hancur, infrastruktur minyak sengaja disisakan utuh. Presiden Trump menegaskan fasilitas tersebut tidak ditargetkan demi alasan kesopanan. Namun, ia memberikan ultimatum akan menghancurkannya jika blokade berlanjut.
”Dia [Trump] ingin Hormuz terbuka. Jika dia harus merebut Pulau Kharg untuk mewujudkannya, itu akan terjadi,” ungkap seorang Pejabat Senior Pemerintahan AS secara anonim kepada Axios pada 20 Maret 2026.
Rencana aneksasi ini memicu peringatan dari ahli pertahanan. Laksamana Muda (Purn.) Mark Montgomery, mantan pejabat militer AS, memberikan analisisnya pada 20 Maret 2026. “Jika kita merebut Pulau Kharg, mereka [Iran] akan mematikan keran dari ujung yang lain. Bukan berarti kita bisa mengendalikan produksi minyak mereka,” tegasnya.*




0 Komentar