Selama empat tahun, mereka menjelajahi lima pulau. Yang mereka temukan mengubah batas-batas peta persebaran tanaman.


KOSONGSATU.ID – Di suatu titik di Jawa Timur, seorang peneliti menjumpai tumbuhan yang—menurut semua catatan ilmiah sebelumnya—seharusnya tidak ada di sana.

Anoectochilus papuanus. Anggrek itu dikenal tumbuh di Papua dan Kepulauan Solomon. Bukan di Jawa.

Namun temuan itulah yang kini tercatat dalam jurnal internasional Lankesteriana Volume 26 (1) Tahun 2026, dalam artikel berjudul “Ten New Orchid Records from the Indonesian Archipelago.” Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan sejumlah mitra peneliti mengumumkan keberhasilan mendokumentasikan 10 rekaman spesies anggrek baru yang belum pernah tercatat sebelumnya di wilayah Indonesia.

Empat Tahun, Lima Pulau

Penelitian ini bukan kerja semalam. Eksplorasi lapangan berlangsung intensif dari 2020 hingga 2024, menjangkau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Tim mengambil spesimen, mendokumentasikan morfologi, mengawetkan herbarium, lalu membandingkan hasilnya dengan koleksi herbarium nasional dan internasional.

Hasilnya melampaui catatan. Selain Anoectochilus papuanus yang mengejutkan itu, spesies lain pun mencatatkan fenomena serupa: Dendrobium teretifolium, yang selama ini dikenal sebagai tanaman asal Australia, kini teridentifikasi di Nusa Tenggara Timur.

Keduanya bukan sekadar temuan baru. Keduanya menunjukkan bahwa garis biogeografi yang selama ini diyakini mapan ternyata masih menyimpan celah.

Wallacea dan Batas yang Belum Selesai

Aninda Retno Utami Wibowo, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, menegaskan bahwa temuan ini membuktikan potensi keanekaragaman Indonesia yang masih jauh dari terpetakan sepenuhnya. “Indonesia, khususnya Kawasan Wallacea dan wilayah timur Indonesia, masih menyimpan banyak potensi keanekaragaman anggrek yang belum terdokumentasi,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Penelitian ini melibatkan empat mitra: Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Universitas Samudra, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kolaborasi lintas institusi itu mencerminkan skala tantangannya—Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 5.000 spesies anggrek, dan masih banyak kawasan yang belum dieksplorasi secara optimal.