Michael Bloomberg menyumbang Rp690,9 miliar untuk Israel yang membantai Gaza. Di saat bersamaan, yayasannya aktif mendanai kampanye penghancuran industri tembakau Indonesia. Koneksi ini bukan kebetulan.


KOSONGSATU.ID — Dunia memang tak sesederhana hitam-putih. Tapi, ketika seorang miliarder menyumbang ratusan miliar rupiah untuk mendukung rezim yang membombardir anak-anak di Gaza, sementara di sisi lain menyuntik dana untuk melumpuhkan jutaan petani dan buruh kretek di Indonesia, kita tak boleh lagi pura-pura netral.

Michael Bloomberg—mantan Wali Kota New York—adalah wajah kekuasaan global yang sedang mengatur ulang siapa boleh hidup, siapa harus tumbang. Pada 13 November 2023, ia secara terang-terangan menyumbang USD44 juta atau setara Rp690,9 miliar kepada Palang Merah Israel (MDA)—organisasi yang jadi perpanjangan tangan militer Israel di medan konflik.

Michael Bloomberg. – FOTO: Dok. CNN

Uang itu tak hanya untuk ambulans. Tapi juga untuk menopang sistem logistik agresi. Untuk mempercepat perang. Dan ya, untuk memastikan mesin pembunuh Israel tak kehabisan bahan bakar.

Tak berhenti di situ, Bloomberg juga memainkan peran sunyi tapi tak kalah mematikan di Indonesia: membiayai lembaga-lembaga yang menggencet industri hasil tembakau.

Dana puluhan juta dolar dikucurkan melalui Bloomberg Initiative, menyusup ke kampus, lembaga pemerintah, forum parlemen, bahkan organisasi keagamaan. Di balik jargon “kesehatan masyarakat”, tersembunyi proyek besar: mematikan ekonomi rakyat kecil.

Cita-citanya satu: membuat industri kretek—warisan budaya dan penyumbang lebih dari Rp200 triliun cukai per tahun—lumpuh total.

Dari Gaza ke Kretek: Agenda Ganda Sang Miliarder

Sulit untuk menganggap semua ini kebetulan. Terlalu sistematis. Terlalu paralel.

Di satu titik dunia, Bloomberg mendanai serangan udara ke pemukiman padat penduduk. Di titik lain, ia menyokong regulasi-regulasi represif yang bisa membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Regulasi terbaru yang tengah digodok Kementerian Kesehatan, jika disahkan, bisa menjadi vonis mati untuk industri hasil tembakau.

RPP Kesehatan memuat pasal-pasal yang tak hanya membatasi produksi dan distribusi rokok, tapi juga secara terang mengarahkan petani untuk meninggalkan tembakau. Pertanyaannya: siapa yang untung dari semua ini?

Kita tahu jawabannya: farmasi multinasional yang menjual “solusi berhenti merokok” berbahan nikotin. Ironis, karena zat yang sama justru mereka sebut adiktif ketika dipakai dalam kretek. Ini bukan perang kesehatan. Ini perang ekonomi dengan topeng moralitas.

Indonesia: Target Empuk dalam Skema Global

Di forum internasional, Indonesia selalu jadi target empuk. Populasi besar, pasar konsumsi luas, dan elite penguasa yang mudah dirayu oleh wacana global.

Bloomberg, dengan yayasan filantropinya, masuk melalui celah itu. Ia menyusup lewat istilah-istilah manis: kota sehat, pelarangan iklan, edukasi rokok, kawasan tanpa asap. Tapi ujungnya jelas: pemangkasan ekonomi rakyat bawah.

Yang lebih menyakitkan: pemerintah sendiri ikut bermain. Bahkan tokoh-tokoh politik sempat memuji “kerja sama” dengan Bloomberg. Seolah tak sadar bahwa di saat bersamaan, Bloomberg menyuplai dana untuk agresor yang membunuh ribuan warga sipil di Gaza.

Ketika kita sibuk menghapus baliho iklan rokok, sekolah-sekolah di Palestina runtuh diserang F-16—dan salah satu sponsornya adalah orang yang sama.