Perang menghancurkan fasilitas medis Teheran. WHO mendesak dunia segera bertindak menyelamatkan jutaan nyawa di tengah krisis.


KOSONGSATU. ID – ​Deru peluru dan dentuman bom kini menggantikan keheningan ruang-ruang penyembuhan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) membunyikan alarm tanda bahaya menyusul serangan ganda Amerika Serikat dan Israel yang menghantam jantung sektor kesehatan di Teheran, Iran.

Tidak hanya menghancurkan beton dan kaca, rentetan serangan ini mengancam nyawa jutaan warga sipil yang bergantung pada layanan medis.

​Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melalui platform X menyampaikan keprihatinannya yang mendalam. Ia mendesak komunitas internasional untuk segera turun tangan membantu sistem kesehatan yang kini lumpuh di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

​Puing-Puing Sejarah di Institut Pasteur

​Salah satu tragedi terbesar menimpa Institut Pasteur. Berdiri sejak 1920, pusat kesehatan masyarakat dan penelitian tertua di ibu kota ini kini menanggung kerusakan signifikan.

Tedros menegaskan bahwa fasilitas yang memainkan peran krusial dalam melindungi kesehatan masyarakat ini tidak lagi mampu memberikan layanannya. Institut ini hanyalah satu dari 20 fasilitas kesehatan yang secara resmi WHO konfirmasi sebagai sasaran serangan.

​Lewat unggahan di X, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, memperlihatkan realitas pahit tersebut. Gambar-gambar yang ia bagikan menunjukkan bangunan bersejarah itu rusak parah, berserakan menjadi puing-puing.

​Meski demikian, secercah harapan masih tersisa. Kantor berita Iranian Students’ News Agency (ISNA) melaporkan bahwa produksi vaksin dan serum tetap berjalan. “Untungnya, tidak ada karyawan Institut Pasteur di Iran yang terluka dalam serangan baru-baru ini oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis,” tulis Kermanpour melalui aplikasi Telegram.

​Jeritan Membisu dari Lintas Batas

​Gelombang kehancuran nyatanya tidak berhenti di perbatasan Iran. Konflik ini memicu efek domino yang mengerikan bagi negara-negara tetangga. Tedros menyerukan dukungan mendesak untuk menyelamatkan sistem kesehatan di Irak, Yordania, Lebanon, dan Suriah.