Perang AS-Israel di kawasan Asia Barat ini memicu pengungsian massal sekitar empat juta orang. Catatan kelam terus bertambah dengan lebih dari 3.000 korban tewas dan 30.000 lainnya luka-luka. Untuk merespons tragedi ini, WHO memohon suntikan dana sebesar USD30,3 juta untuk periode Maret hingga Agustus.
Dana ini menjadi garis hidup untuk layanan kesehatan esensial, perawatan trauma, hingga kesiapsiagaan menghadapi ancaman kimia, biologi, radiologi, dan nuklir.
Ancaman sekunder kini mengintai para pengungsi. WHO mencatat 116 serangan terverifikasi terhadap fasilitas medis di negara-negara terdampak. Krisis ini meningkatkan risiko wabah penyakit menular secara tajam. Bukan hanya itu, bahaya lingkungan akibat terbakarnya depot minyak, paparan bom fosfor putih, dan senjata mematikan lainnya menimbulkan ancaman luka bakar kimia hingga cedera pernapasan akut.
Saat Ruang Penyembuhan Menjadi Target
Pola peperangan perlahan bergeser. Israel dan Amerika Serikat tampak memperluas target operasi mereka jauh melampaui fasilitas militer. Kini, infrastruktur sipil mulai dari pusat pendidikan, transportasi, hingga rumah sakit menjadi sasaran tembak.
Bulan Sabit Merah Iran mencatat setidaknya 307 fasilitas kesehatan, medis, dan perawatan darurat hancur selama perang berlangsung. Serangan beruntun menghantam fasilitas penelitian laser dan plasma Universitas Shahid Beheshti, Universitas Imam Hossein, hingga Universitas Malek-Ashtar.
Bahkan, pabrik farmasi Tofigh Daru yang memproduksi obat anestesi dan kanker, serta Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina, tidak luput dari gempuran.
Kenyataan ini menampar wajah hukum internasional. Berdasarkan Konvensi Jenewa peninggalan Perang Dunia II, fasilitas perawatan kesehatan adalah zona pelindung yang haram untuk disentuh. Menyerang rumah sakit jelas merupakan sebuah kejahatan perang.
Namun, ancaman terus bergaung. Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan mengancam akan membom Iran “kembali ke Zaman Batu.” Retorika ini sejalan dengan manuver Israel yang sebelumnya berulang kali membombardir rumah sakit di Gaza sejak Oktober 2023, dengan dalih fasilitas tersebut menjadi tempat persembunyian pejuang Hamas.




Tinggalkan Balasan