Israel menegaskan tidak akan ikut dalam operasi darat AS ke Iran. Para analis militer pun mempertanyakan seberapa jauh Washington siap masuk ke medan perang yang sangat kompleks itu.


KOSONGSATU.ID — Di tengah kabar Pentagon sedang menyiapkan opsi invasi darat ke Iran, Israel justru memilih berdiri di pinggir. Negeri  zionis itu menegaskan tidak akan menurunkan pasukan darat ke wilayah Iran—meski selama ini menjadi mitra paling dekat Washington dalam konflik yang sudah berlangsung lebih dari sebulan tersebut.

Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard sudah lebih dulu mengakui bahwa tujuan kedua negara tidak sepenuhnya satu arah. Israel fokus melumpuhkan kepemimpinan Iran, sementara AS mengincar kemampuan militernya.

Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, bahkan terang-terangan menyebut bahwa yang dibutuhkan bukan pasukan darat Israel maupun AS, melainkan rakyat Iran itu sendiri. 

“Saya pikir kita membutuhkan pasukan darat, tetapi mereka haruslah pasukan Iran,” kata Leiter. Maksudnya, dia berharap terjadinya pemberontakan dari dalam—yang hingga kini belum terwujud.

Medan yang Bukan Irak

AS sendiri masih berkutat dengan perdebatan internal. Pentagon sedang menyusun skenario operasi darat terbatas — bukan invasi penuh — yang bisa berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan. Targetnya Pulau Kharg dan kawasan pesisir Selat Hormuz.

Tapi, para analis melontarkan peringatan keras. Profesor Robert Pape dari Universitas Chicago, pakar keamanan yang mengkhususkan diri pada perang udara, menyebut invasi darat ke Iran berpotensi menjadi kesalahan strategis sekelas Perang Vietnam. 

“Vietnam menunjukkan persis kapan perang udara berubah menjadi perang darat. Sinyal yang sama kini muncul dalam perang Iran,” tegasnya.

Pakar keamanan Israel Dr. Simon Tsipis pun menilai Israel memang tidak punya kapasitas untuk terlibat. Israel kini bertempur di tiga front darat sekaligus — Gaza, Lebanon, dan Tepi Barat — plus dua front udara. “Israel kekurangan kapasitas, pasukan, dan peralatan militer untuk mengerahkan kekuatannya,” kata Tsipis.

Wakil Presiden Kebijakan di Jewish Institute for National Security of America, Blaise Misztal, menambahkan bahwa ketidakikutsertaan Israel ini mirip Perang Teluk 1991 — ketika Israel juga tidak terlibat dalam operasi darat di Irak. “Dalam 1991, AS meminta Israel keluar dari perang demi menjaga koalisi Arab. Kali ini alasannya berbeda, tapi hasilnya sama,” ujarnya.

Trump Masih Ragu

Di Washington, Gedung Putih belum memberi lampu hijau. Juru bicara Karoline Leavitt menegaskan bahwa penyusunan opsi militer adalah prosedur rutin Pentagon dan bukan berarti presiden sudah memutuskan.

Tekanan publik pun nyata. Sebanyak 74 persen warga Amerika menolak pengerahan pasukan darat ke Iran menurut survei Quinnipiac. Di sisi lain, perang yang sudah merenggut lebih dari 1.900 nyawa warga Iran dan 13 tentara AS ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pertanyaannya kini sederhana tapi berat: apakah AS berani masuk sendiri ke Iran tanpa sekutu paling setianya?***