Rencana operasi darat AS ke Iran dikritik karena berisiko memicu perang panjang, mahal, dan sulit dimenangkan.


KOSONGSATU.ID — Wacana pengerahan pasukan pasukan darat Amerika Serikat ke Iran memicu kritik keras di Washington. Di tengah penambahan personel militer AS ke kawasan, sejumlah legislator menilai langkah itu amat berbahaya.

Presiden Donald Trump belum memberi persetujuan untuk invasi darat. Namun, pembahasan opsi militer yang lebih agresif sudah memicu kekhawatiran soal perang panjang tanpa jalan keluar yang jelas.

Senator Richard Blumenthal, anggota senior Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat, mengaku marah usai menerima pengarahan tertutup soal perang Iran. Ia menilai tujuan dan strategi perang itu tidak jelas.

Kritik itu tidak berdiri sendiri. Sejumlah anggota parlemen dan analis keamanan juga mempertanyakan manfaat operasi darat dibanding risiko besar yang harus ditanggung militer Amerika.

Benteng Alam yang Sulit Ditembus

Iran bukan medan perang yang mudah. Negara itu memiliki wilayah sangat luas, dipagari pegunungan, dataran tinggi, dan gurun yang membuat operasi darat jauh lebih rumit dibanding perang di medan terbuka.

Jalur masuk yang terbatas membuat pergerakan pasukan besar rawan disergap. Skenario inilah yang paling dikhawatirkan para pengkritik di Washington: perang bisa berubah menjadi konflik panjang yang menguras biaya dan tenaga.

Kondisi geografi Iran lebih luas dan sulit daripada Vietnam dan Pertempuran Okinawa – Istimewa

Pentagon memang telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan. Reuters melaporkan AS mengirim tambahan sekitar 3.000 hingga 4.000 personel dari Divisi Lintas Udara ke-82.

Associated Press juga melaporkan sekitar 1.000 personel dari brigade yang sama ikut disiapkan, menyusul pengerahan ribuan Marinir dan pelaut yang lebih dulu dikirim ke kawasan itu.

Namun, jumlah tersebut dinilai lebih cocok untuk operasi terbatas. Bukan untuk menaklukkan Iran, negara besar dengan struktur pertahanan yang jauh lebih kompleks dibanding target operasi kilat.

Kharg dan Hormuz Jadi Titik Bahaya

Perdebatan makin panas setelah muncul opsi menargetkan Pulau Kharg. Pulau ini adalah terminal vital yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.

AP melaporkan Trump sempat menyinggung kemungkinan merebut fasilitas itu. Namun gagasan tersebut justru dinilai bisa memperluas perang, bukan mengakhirinya.

Pulau Kharg, Iran. – Reuters

Risikonya tidak hanya militer. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga serangan besar ke Iran bisa langsung mengguncang pasar energi global.

Reuters pada Senin, 30 Maret 2026, melaporkan pasar energi mulai menghitung skenario terburuk bagi pasokan minyak dan LNG akibat konflik yang terus meluas di kawasan Teluk.

Bagi para penentang invasi, menyerbu Iran bukan operasi cepat. Itu bisa menjadi jebakan perang baru dengan biaya militer, politik, dan ekonomi yang sangat mahal.***