Tradisi balon udara Wonosobo resmi diakui HKI komunal saat Festival Mudik Balon 2026 digelar, Minggu (29/3/2026).


KOSONGSATU.ID – Pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Komunal resmi diberikan kepada tradisi balon udara kertas khas Wonosobo, Jawa Tengah, yang telah berlangsung sejak era penjajah Belanda. Penetapan ini diumumkan bertepatan dengan puncak Festival Mudik Balon Udara 2026 di Alun-Alun Wonosobo, Minggu (29/3/2026).

Sebanyak 45 balon udara raksasa diterbangkan secara tambat dalam festival tersebut. Tradisi ini kini tidak hanya dipandang sebagai budaya lokal, tetapi juga telah mendapatkan legitimasi hukum sebagai kekayaan intelektual komunal milik masyarakat.

Balon udara tersebut dirakit dari ribuan lembar kertas warna-warni. Proses ini dimaknai sebagai simbol gotong royong dan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Saat balon mengudara, masyarakat mempercayainya sebagai representasi doa yang “melangit” menuju Tuhan.

Tradisi lama. Makna spiritual tetap dijaga.

Berubah Demi Keselamatan

Pelaksanaan tradisi ini sempat menjadi sorotan serius pada periode 2019 hingga 2023. Saat itu, kebiasaan menerbangkan balon udara tanpa kendali memicu ancaman keselamatan penerbangan sipil di wilayah udara Pulau Jawa.

Pemerintah kemudian menerapkan aturan ketat. Balon wajib ditambatkan menggunakan tiga tali dengan ketinggian maksimal 150 meter.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, menegaskan bahwa aspek keselamatan tidak bisa ditawar.

“Kami tentu sangat mendukung pelestarian budaya ini. Namun keselamatan penerbangan adalah harga mati. Solusinya menggunakan sistem tambat yang terstandarisasi,” ujar Avirianto dalam pernyataannya, 22 Maret 2026.

Regulasi ini menjadi titik kompromi antara pelestarian budaya dan standar keselamatan modern.

Tradisi tetap hidup. Risiko ditekan.

Didorong Jadi Wisata Internasional

Pengakuan HKI memperkuat posisi Festival Balon Udara sebagai agenda wisata unggulan daerah. Pemerintah Kabupaten Wonosobo menilai festival ini memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan.

Kepala Bidang Pemasaran Disparbud Wonosobo, Fatonal Ismangil, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan budaya tak benda yang harus dijaga.

“Festival Mudik Balon Udara bukan sekadar tontonan, tetapi warisan budaya yang terus kami jaga dan lestarikan,” ujar Fatonal, 14 Maret 2026.

Puncak festival tahun ini menampilkan desain balon bertema “Nusantara” hasil karya warga. Kreativitas peserta dinilai terus meningkat dari tahun ke tahun.

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, berharap festival ini mampu menembus pasar wisata global.

“Selain sebagai hiburan untuk masyarakat, festival balon udara ini juga sebagai upaya kita untuk menjaga kelestariannya. Saya berharap festival seperti ini mampu menarik wisatawan tidak hanya lokal, nasional akan tetapi internasional,” kata Afif dalam keterangan resminya.

Tradisi lokal kini naik kelas.

Dari ritual Syawalan, menuju panggung dunia.***