Investor memanfaatkan koreksi harga emas untuk melakukan aksi borong secara masif.
KOSONGSATU.ID – Pasar komoditas emas dunia kembali menunjukkan dinamika yang sangat menarik. Sempat mengalami penurunan tajam, harga emas kini kembali merangkak naik. Investor global berlomba melakukan aksi buru harga murah.
Pada tanggal 26 Maret 2026 lalu, harga emas dunia spot dilaporkan anjlok drastis. Penurunan mencapai sekitar 2,7 hingga 3,29 persen dalam sehari. Harga meluncur ke level USD 4.380 per troy ons.
Koreksi tajam ini dipicu oleh dua faktor utama di pasar global. Pertama adalah penguatan mata uang Dolar Amerika Serikat terhadap mata uang lainnya. Kedua, adanya evaluasi pasar soal gencatan senjata Timur Tengah.
Namun penurunan ini tidak berlangsung lama di bursa komoditas. Sehari berselang yakni tanggal 27 Maret 2026, terjadi aksi bargain hunting. Investor melihat harga yang turun sebagai kesempatan emas untuk membeli.
Harga emas dunia langsung merespons aksi beli massal ini dengan positif. Logam mulia ini kembali merangkak naik sebesar 0,8 persen. Posisi harga berada di level USD 4.415 per troy ons.
Dampak Pelemahan Harga di Indonesia
Koreksi harga dunia ini langsung berimbas pada pasar emas ritel di Indonesia. Harga emas batangan keluaran PT UBS dan PT Antam mengalami penyesuaian. Pelemahan harga harian ini bervariasi di pasaran.
Tercatat ada penurunan sekitar Rp21.000 hingga Rp40.000 per gram dari hari sebelumnya. Harga emas PT UBS untuk ukuran satu gram berada di angka Rp2.841.000. Angka ini terpantau stabil pasca-koreksi di Pegadaian.
Momen penurunan ini dianggap sebagai titik masuk yang sangat ideal. Investor ritel memiliki jendela kesempatan sebelum gelombang kenaikan harga berikutnya datang. Proyeksi jangka panjang emas masih sangat cerah.
Lembaga perbankan Swiss yakni UBS Group AG tetap optimis dengan prospek emas. Mereka sebelumnya telah mematok target ambisius untuk logam mulia ini. Harga diproyeksikan bisa tembus USD 6.200 per troy ons.
Proyeksi Tetap Bullish
Dominic Schnider, Head of Commodities di UBS Global Wealth Management, memberikan analisanya. Tanggal 16 Maret 2026 melalui Kitco News, ia menyebut harga akan terus naik. Permintaan bank sentral menjadi penopang utama.
“Kami melihat emas akan melanjutkan pendakiannya,” tegas Schnider. Ia menyebut defisit fiskal yang besar dan suku bunga riil AS yang rendah sebagai pemicu. Risiko geopolitik global juga belum sepenuhnya mereda.
Tim Analis Komoditas Bank UBS mengamini proyeksi dari Schnider tersebut. Dalam riset 16 Maret 2026, mereka yakin pendorong utama reli emas tetap bertahan. Respons emas terhadap ketegangan geopolitik diprediksi kembali kuat.
Secara fundamental makroekonomi, aset emas memang belum kehilangan status super-siklusnya. Inflasi yang persisten dan fenomena de-dolarisasi menguatkan posisi emas sebagai pelindung nilai. Aset ini diyakini terkuat di dekade ini.***




Tinggalkan Balasan