Teheran resmi menolak 15 poin tuntutan gencatan senjata Washington dan menetapkan lima syarat mutlak untuk mengakhiri eskalasi militer di Timur Tengah.
KOSONGSATU.ID – Pemerintah Iran secara resmi menolak draf proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik yang melumpuhkan jalur perkapalan global.
Alih-alih menyetujui 15 poin tuntutan Washington, Teheran justru berbalik menekan dengan menetapkan lima syarat mutlak yang harus dipenuhi jika AS menginginkan penghentian perang.
Keputusan ini diambil setelah mediator dari pemerintah Pakistan menyampaikan draf usulan Presiden Donald Trump pada 24 hingga 25 Maret 2026.
Dalam draf tersebut, Washington mendesak pelucutan fasilitas nuklir secara komprehensif serta pembukaan penuh Selat Hormuz. Namun, Teheran menganggap tuntutan itu tidak rasional dan memilih untuk terus melanjutkan operasi militer.
Lima Syarat Mutlak Teheran
Syarat yang diajukan Iran mencakup penghentian total agresi militer, pembentukan mekanisme internasional antikorupsi perang, hingga pembayaran ganti rugi finansial atas seluruh kerusakan infrastruktur. Selain itu, Teheran menuntut perlindungan bagi kelompok sekutu seperti Hizbullah dan pengakuan resmi atas kendali penuh Iran di wilayah Selat Hormuz.
Poin terakhir mengenai Selat Hormuz menjadi penyumbat utama krisis global saat ini. Hal ini disebabkan karena 20 persen volume pasokan minyak dunia bergantung pada titik sempit geopolitik tersebut. Tanpa kesepakatan pada poin kedaulatan maritim ini, stabilitas energi dunia diprediksi akan terus berada di bawah bayang-bayang kelumpuhan.
Perlawanan Tanpa Kompromi
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pertukaran pesan melalui mediator bukan berarti pembukaan pintu negosiasi. Ia memastikan kebijakan perlawanan akan tetap berjalan selama hak-hak kedaulatan Iran belum diakui secara penuh oleh koalisi AS-Israel.
“Saat ini, kebijakan kami adalah melanjutkan perlawanan. Pertukaran pesan melalui mediator tidak berarti negosiasi dengan AS, dan kami tidak memiliki rencana untuk bernegosiasi saat ini,” ujar Araghchi dalam wawancara televisi pemerintah, Kamis (26/3/2026).
Senada dengan itu, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa durasi perang sepenuhnya berada di tangan Teheran, bukan berdasarkan imajinasi penyelesaian Donald Trump. Pihaknya mengaku siap memberikan pukulan telak hingga seluruh tuntutan terpenuhi.
Merespons sikap keras tersebut, Pentagon langsung memobilisasi 6.000 tentara tambahan ke Timur Tengah. Pengiriman ini mencakup 1.000 personel Divisi Lintas Udara ke-82 dan 5.000 pasukan Marinir yang kini disiagakan di kawasan Teluk Persia untuk menghadapi kemungkinan pertempuran yang lebih luas.***




Tinggalkan Balasan