Banjir hidrometeorologi berskala masif merendam sembilan kecamatan di Kabupaten Pasuruan, melumpuhkan aktivitas warga pada hari pertama kerja pasca-libur Lebaran, Rabu (25/3).


KOSONGSATU.ID – Hujan dengan intensitas sangat tinggi yang turun sejak Selasa (24/3) menyebabkan Sungai Wrati meluap. Air bervolume ekstensif dari kawasan hulu tak tertampung akibat degradasi vegetasi di dataran tinggi serta alih fungsi lahan masif di wilayah tangkapan air.

Akses jalan raya desa terendam genangan tinggi, memutus mobilitas warga. Ribuan kepala keluarga terisolasi di rumah atau terpaksa mengungsi ke posko darurat.

Episentrum Genangan di Kecamatan Beji

Kecamatan Beji tercatat sebagai wilayah dengan genangan terparah. Kepala Desa Kedungringin, Rizki Wahyuni, menyatakan banjir kali ini merupakan yang terbesar dibanding kejadian sebelumnya.

“Dibanding banjir-banjir sebelumnya, banjir ini memang yang paling besar,” ujar Rizki di lokasi, Rabu (25/3).

Dusun Balongrejo dan Dusun Beringin di desanya nyaris tenggelam sepenuhnya.

Evakuasi Gunakan Perahu, Warga Menanti Matahari

Kondisi darurat memaksa pemerintah daerah bertindak menembus lokasi terisolasi. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur bersama Wakil Bupati Pasuruan, HM. Shobih Asrori, turun langsung menggunakan perahu evakuasi karena jalan raya lumpuh total.

“Peninjauan yang kami lakukan ini sebagai bentuk perhatian pemerintah, baik dari provinsi maupun Kabupaten Pasuruan,” tegas Shobih, Rabu.

Hingga pukul 15.40 WIB, genangan di sembilan kecamatan hanya surut perlahan. Tim Pusat Pengendalian Operasi BPBD Jatim mengonfirmasi bahwa genangan sulit surut tanpa panas terik matahari.

Sementara itu, operasi modifikasi cuaca Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi berakhir pada pukul 16.12 WIB.

Bencana Ekologis dari Kawasan Hulu

Tragedi ini bukan sekadar anomali cuaca. Vegetasi di dataran tinggi kawasan penyangga seperti Pasrepan dan Tutur mengalami degradasi parah akibat alih fungsi lahan. Tanah kehilangan fungsi resapan alami, menyebabkan limpasan air hujan di hulu langsung meluncur ke hilir tanpa hambatan.

Fenomena ini menjadi alarm mendesaknya audit tata ruang lingkungan, di luar sekadar intervensi normalisasi sungai. Warga yang terdampak masih menghadapi krisis logistik dan risiko korsleting listrik.***