Pemudik mulai sadari jalur tol tak selamanya cepat akibat kemacetan horor.


KOSONGSATU.ID — Narasi jalan tol selalu bebas hambatan perlahan luntur saat musim mudik Lebaran tiba. Ribuan pemudik justru memilih beralih ke jalur arteri seperti Pantai Utara (Pantura) dan Pantai Selatan (Pansela).

Keputusan ini diambil demi menghindari jebakan kemacetan statis di dalam tol. Volume kendaraan yang terlampau tinggi mengubah wajah jalan tol menjadi area parkir massal.

​Fakta di lapangan secara gamblang menunjukkan perubahan tren perilaku pemudik tahun ini.

Mereka belajar dari pengalaman buruk tahun-tahun sebelumnya. Tol Trans-Jawa yang diandalkan untuk memangkas waktu, terbukti sering lumpuh total pada periode kritis H-3 hingga H-1 Lebaran.

​Puncak kemacetan horor baru saja terekam di ruas tol Jakarta-Cikampek pada 18 Maret 2026 lalu. Ribuan kendaraan roda empat tak bergerak selama lebih dari dua jam.

Mesin menyala, namun roda tak berputar. Hal ini memaksa pengendara memutar otak mencari rute pelarian darurat.

​Supri (39), seorang pemudik rute Jakarta-Bandung, membagikan pengalaman pahitnya terjebak di jalur bebas hambatan. Ia akhirnya memutuskan keluar gerbang tol demi menghemat waktu tempuh.

​”Dari Jakarta mau ke Bandung. Tadi di tol sudah 2 jam lebih enggak bisa jalan, macet total. Enggak bisa lewat, enggak bisa jalan, makanya akhirnya keluar tol. Memang nanti lewat pantura pasti memakan waktu lebih banyak, tapi bisa jalan,” ungkap Supri pada 18 Maret 2026.

​Jebakan Antrean Rest Area

​Biang kerok utama kelumpuhan lalu lintas di dalam tol sejatinya sudah terdeteksi sejak lama. Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri pada tahun 2024, Irjen Pol Aan Suhanan, pada 24 Maret 2024 lalu, telah menegaskan akar masalah kemacetan tersebut.

​”Pertama adalah kepadatan di rest area yang seringkali menjadi pusat kemacetan. Seperti diketahui, banyaknya kendaraan yang antre masuk ke rest area telah menimbulkan kemacetan panjang di dalam tol,” tegas Aan saat itu.

​Antrean kendaraan yang mengular liar hingga bahu jalan terbukti mengunci pergerakan arus utama. Imbasnya sangat terasa pada catatan waktu tempuh lintas daerah.

Laporan evaluasi Jasa Marga pada 7 April 2024 mencatat waktu tempuh Jakarta-Semarang via Tol Jakarta-Cikampek bawah menyentuh 6 jam 54 menit. Angka tersebut justru 1,47 persen lebih lambat dari tahun 2023 akibat ledakan volume.

​Pantura Jadi Katup Pengaman

​Jalur arteri konvensional akhirnya kembali mengambil peran vital sebagai katup pengaman. Data terbaru pada H-1 Lebaran, tepatnya 20 Maret 2026, membuktikan besarnya arus limpahan tersebut.

Sebanyak 577.000 kendaraan roda dua dan empat tercatat memadati jalur arteri Pantura Cirebon.

​Pemerintah terus memperbarui skema rekayasa lalu lintas menyikapi fenomena pergeseran rute ini. Sistem peringatan dini lewat papan informasi digital (VMS) di gerbang tol kini menjadi ujung tombak.

Pengemudi langsung diarahkan menuju jalur arteri apabila antrean tol sudah melewati batas toleransi maksimal. Pemudik yang adaptif akhirnya bisa tiba lebih cepat di kampung halaman.***