Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman baru untuk menyerang Pulau Kharg, Iran, lagi “hanya untuk bersenang-senang”.


KOSONGSATU.ID—Dalam wawancara dengan NBC News, Sabtu (14/3/2026), Trump menyatakan serangan AS sebelumnya “benar-benar menghancurkan” sebagian besar hub ekspor minyak Iran dan memperingatkan akan ada serangan lagi ke pulau tersebut. 

“Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang,” ujar pemimpin AS itu.

Pernyataan ini menandai eskalasi dari komentar Trump sebelumnya, yang mengatakan AS hanya menargetkan situs militer di Pulau Kharg. 

AS menyerang Pulau Kharg dari dua lokasi di Uni Emirat Arab: Ras Al-Khaimah dan tempat yang “sangat dekat dengan Dubai”, menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Respons Keras Iran

Menlu Iran Abbas Araghchi menegaskan Iran akan merespons setiap serangan terhadap fasilitas energinya. Ia juga mengecam pernyataan Trump.

“Ini adalah perang ilegal tanpa kemenangan. Orang-orang terbunuh hanya karena Presiden Trump ingin ‘bersenang-senang’. Inilah yang dia katakan,” ujar Araghchi kepada CBS’s Face the Nation, Minggu (15/3/2026).

Araghchi menyebut serangan dari wilayah UEA sebagai tindakan “berbahaya” dan mengatakan Iran “akan berusaha hati-hati untuk tidak menyerang area berpenduduk” di sana. 

Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak berkomentar, sementara penasihat diplomatik Presiden UEA Anwar Gargash menyatakan negaranya berhak membela diri tetapi “masih mengutamakan akal dan logika, serta terus menahan diri”.

Serangan Balasan Iran Terus Berlanjut

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Minggu (15/3/2026) mengatakan telah melancarkan serangan rudal dan drone ke target di Israel dan tiga pangkalan AS di kawasan. Serangan ini disebut sebagai putaran pertama balasan atas pekerja yang tewas di kawasan industri Iran.

Pada Sabtu, serangan rudal di sebuah situs industri di kota Isfahan, Iran tengah, menewaskan setidaknya 15 orang saat pekerja berada di dalam pabrik, menurut media Iran.

Gangguan Terbesar Pasokan Minyak Global

Kemampuan Teheran menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, yang dilalui seperlima kargo minyak dunia, telah memicu gangguan terbesar dalam pasokan minyak global dan meresahkan pasar serta pemerintah.

Dalam unggahan media sosial Sabtu, Trump menyerukan negara-negara penerima minyak melalui Selat Hormuz untuk menjaga jalur tersebut, dengan AS siap membantu. Namun analis meragukan banyak negara akan bergabung dalam koalisi angkatan laut pimpinan AS.

Salman Shaikh, pendiri Shaikh Group, mengatakan negara-negara enggan terlibat dalam situasi yang akan membawa bahaya besar bagi mereka dan kapal mereka. 

Ia menambahkan Iran percaya dapat mempertahankan konfrontasi melalui taktik asimetris meskipun mengalami kemunduran pada kemampuan militer konvensionalnya.

“Negara Iran sedang berjuang dalam pertempuran eksistensial, yang kini menjadi perjuangan nasionalis,” kata Shaikh kepada Al Jazeera.

Jalan Diplomasi Tertutup

Trump juga mengatakan Iran ingin membuat kesepakatan tetapi AS belum siap “karena persyaratannya belum cukup baik”. Araghchi merespons bahwa Teheran tidak “melihat alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami sedang berbicara dengan mereka ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami”. 

“Tidak ada pengalaman baik berbicara dengan Amerika,” tambahnya.

Perang yang dilancarkan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 28 Februari telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar di Iran, menurut laporan pemerintah dan media setempat.***