Mengungkap kisah spiritual di balik kunjungan mendadak Presiden Soekarno ke Pesantren Bengkel yang mengguncang nalar politik.


KOSONGSATU. ID – Tahun 1958 menjadi lembaran penting bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang baru saja seumur jagung. Presiden Soekarno, sang penyambung lidah rakyat, menjadwalkan kunjungan ke Mataram untuk meresmikan kantor gubernur sekaligus membakar semangat revolusi melalui orasi-orasinya yang menggelegar.

Namun, di balik agenda protokoler yang kaku, sebuah drama spiritual tengah bergejolak di Desa Bengkel, Lombok Barat.

Ramalan yang Membelah Opini

Jauh sebelum deru mesin mobil kepresidenan terdengar di Selaparang, Tuan Guru Haji (TGH) Saleh Hambali, pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an, sudah membuat pengumuman mengejutkan. Beliau memerintahkan para santrinya untuk berbenah. Bukan sekadar menyapu halaman, sang Tuan Guru meminta jalanan menuju pesantren dirapikan agar layak dilalui kendaraan kepresidenan.

“Beberapa minggu lagi, Presiden Soekarno akan mampir ke sini,” ucapnya tenang.

Instruksi ini segera memicu kegaduhan. Kalangan santri dan warga Nahdlatul Ulama (NU) bergerak cepat tanpa banyak tanya. Namun, di sisi lain, kelompok Masyumi dan kalangan yang mengagungkan rasionalitas mencibir habis-habisan. Bagi mereka, jadwal kepresidenan adalah harga mati yang disusun ketat oleh protokol negara. Mustahil seorang presiden yang tak mengenal TGH Saleh Hambali tiba-tiba berbelok ke sebuah desa terpencil tanpa agenda resmi. Sebutan “gila” dan “khurafat” pun dialamatkan kepada sang ulama.

“Ngerti Sak Durunge Winarah”

Meski tekanan sosial begitu kencang, TGH Saleh Hambali tetap bergeming. Beliau menyiapkan podium sederhana dan jamuan ala kadarnya. Di sinilah jati diri seorang ulama yang waskita—atau dalam terminologi Jawa disebut ngerti sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi)—diuji di hadapan publik.

Sejarawan NTB, H. Agus Mulyadi, memberikan pandangannya mengenai fenomena ini:

“Hubungan antara Bung Karno dan para ulama kharismatik bukanlah sekadar urusan politik praktis. Ada resonansi frekuensi batin yang kuat. Soekarno memiliki intuisi yang tajam, namun para kekasih Allah seperti TGH Saleh Hambali memiliki ‘bashirah’ atau mata batin yang mampu melampaui sekat-sekat protokoler manusia.”

Detik-Detik yang Mengubah Sejarah

Hari yang dinanti tiba. Rombongan forreders dan mobil kepresidenan mulai bergerak dari Bandara Selaparang menuju pusat kota Mataram. Jalur yang mereka lewati bersinggungan dengan jalur menuju Desa Bengkel.