Sesuai arahan TGH Saleh Hambali, para santri berdiri rapi di pinggir jalan. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan ayat Al-Qur’an: “Fa ammal yatima fala taqhar, wa amma sya’ila fala tanhar” (Terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku kasar, dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik).

Keajaiban pun terjadi. Di luar skenario protokol yang telah disusun matang, mobil yang membawa Bung Karno tiba-tiba melambat dan membelokkan arah menuju gerbang pesantren. Seolah ada magnet spiritual yang menariknya, Bung Karno turun dan langsung memeluk erat TGH Saleh Hambali.

Keduanya bercengkerama akrab bak dua sahabat lama yang baru bertemu kembali, meninggalkan rasa takjub sekaligus malu bagi mereka yang sebelumnya mencibir.***

Pertautan Batin Sang Proklamator

Pertemuan itu bukan sekadar ramah tamah. Soekarno terpesona pada ketawaduan namun kuatnya karakter yang terpancar dari wajah Tuan Guru. Bagi Bung Karno, ulama tipe inilah yang ia butuhkan sebagai garda depan dalam membangun karakter bangsa (character and nation building).

Kunjungan yang dianggap “igauan” itu nyatanya menjadi bukti otentik tentang karomah dan kewalian. TGH Saleh Hambali membuktikan bahwa di atas kertas protokol negara, masih ada garis takdir yang digerakkan oleh ketulusan doa dan kejernihan batin.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh narasi politik di atas mimbar, tetapi juga oleh hubungan batin antara pemimpin dan para ulama yang terjalin di ruang-ruang sunyi pesantren. Ketajaman batin TGH Saleh Hambali dan kerendahan hati Soekarno adalah warisan berharga bagi generasi NTB hari ini.***


Daftar Pustaka:

  1. Mansur, H. (2012). Profil Ulama Karismatik Nusa Tenggara Barat. Mataram: Arga Puji Press.
  2. Zuhdi, M. H. (2018). Visi Kebangsaan Tuan Guru: Relasi Agama dan Negara di Lombok. Jakarta: Prenada Media.
  3. Arsip Daerah Provinsi NTB. Catatan Kunjungan Presiden Soekarno ke NTB Tahun 1958.
  4. Wawancara lisan dengan keturunan/pengasuh Ponpes Darul Qur’an Bengkel mengenai tradisi tutur manaqib TGH Saleh Hambali.