Kelenteng Mbah Ratu di Surabaya menyimpan kayu yang diyakini bagian kapal Cheng Ho.


KOSONGSATU.ID—Kelenteng Mbah Ratu Sam Poo Tay Djien di Jalan Demak, Surabaya, berdiri sejak 1935 dan menjadi salah satu klenteng bersejarah di Kota Pahlawan. Tempat ibadah ini dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho, pelaut Muslim berdarah Tionghoa yang dikenal luas dalam sejarah pelayaran Asia.

Bangunan kelenteng itu hingga kini masih kokoh. Letaknya berada di kawasan padat penduduk di Jalan Demak. Warga mengenalnya sebagai Klenteng Mbah Ratu.

“Kelenteng ini merupakan persembahyangan untuk Sam Poo Tay Djien (Tuan Besar Kasim) Cheng Ho,” ujar Ninik, pengurus kelenteng, dikutip Selasa (17/2/2026).

Kayu yang Diyakini Bagian Kapal Cheng Ho

Di dalam kelenteng tersimpan sebuah benda yang dianggap istimewa. Sebongkah kayu sepanjang 2,5 meter dengan lebar sekitar 0,5 meter disimpan di bawah altar utama.

Kayu tersebut diletakkan dalam kotak kaca dan ditutup kain merah. Pengurus meyakini kayu itu merupakan bagian dari kapal Laksamana Cheng Ho.

“Ini bagian dari kapal Cheng Ho, disimpan di sini dan secara berkala dibersihkan,” tutur Ninik.

Menurut penuturan pengurus, kayu tersebut awalnya dikubur di sebuah perempatan jalan yang tidak jauh dari laut. Lokasi itu kemudian dikenal dengan nama Jalan Prapat Kurung.

Seiring perkembangan kawasan, kayu tersebut dipindahkan ke selatan. Pemindahan itu ditandai dengan pembangunan klenteng yang kini menjadi tempat penyimpanan kayu tersebut.

Tradisi Jumat Legi dan Harmoni Budaya

Klenteng Mbah Ratu tidak hanya menyimpan benda bersejarah. Tempat ini juga dikenal dengan tradisi ibadah malam Jumat Legi yang digelar sebulan sekali.

“Kita ada ibadah malam Jumat Legi, sebulan sekali untuk menghormati Sam Poo Tay (Mbah Ratu). Saat malam Jumat Legi, di sini pasti akan ramai umat, bahkan lebih ramai dari ibadah Imlek,” ungkap Ninik.

Pada perayaan Imlek, umat datang untuk bersembahyang. Namun saat Jumat Legi, suasana berbeda terasa. Selain sembahyang, digelar pula tradisi tumpengan.