Munggahan 2026 diwarnai lonjakan harga pangan, dengan daging sapi tembus Rp160.000/kg. Di tengah persiapan Ramadan 1447 H, warga terpaksa putar otak menjaga tradisi di tengah puncak inflasi pangan.


KOSONGSATU.ID – Senin sore ini, aroma rendang dan opor mulai tercium dari dapur-dapur warga. Di kalender sosial masyarakat Indonesia, hari ini adalah puncak tradisi Munggahan—momen berkumpul dan makan bersama keluarga sebelum memasuki pintu suci Ramadan. Namun, di balik keriuhan doa dan tawa, ada helaan napas panjang yang tertahan di pasar-pasar tradisional.

Pantauan di sejumlah pasar besar di Jakarta dan Depok sore ini menunjukkan angka yang membuat dahi berkerut: Harga daging sapi meroket hingga tembus Rp160.000 per kilogram. Angka ini bukan sekadar statistik inflasi, melainkan beban nyata bagi jutaan keluarga yang ingin menjaga tradisi di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.

Ritual Tahunan yang Kian Mahal Munggahan, yang secara filosofis berarti “naik” atau berpindah ke derajat yang lebih suci, kini seolah memiliki makna literal yang menyakitkan: kenaikan harga yang ugal-ugalan. Bukan hanya daging, harga cabai dan bawang pun ikut “berjamaah” naik, seolah tidak mau kalah menyambut bulan suci.

Fenomena ini memicu pertanyaan klasik yang selalu berulang setiap tahun: Mengapa instrumen pengendali harga milik pemerintah seolah selalu kalah cepat dibanding spekulasi pasar? Operasi pasar yang digelar di sana-sini seringkali terasa seperti pemadam kebakaran yang datang saat rumah sudah menjadi abu—terlambat dan tidak menyentuh akar masalah distribusi.

Keikhlasan yang Diuji 

Bagi banyak warga, Munggahan tahun 2026 ini adalah ujian keikhlasan sebelum puasa benar-benar dimulai. “Tahun lalu masih bisa beli dua kilo daging, tahun ini satu kilo saja harus mikir berkali-kali,” keluh salah satu warga di Pasar Kemiri Muka, Depok, Senin (16/2).

Kesenjangan terlihat jelas. Di pusat-pusat perbelanjaan mewah, restoran fine dining penuh sesat oleh mereka yang merayakan Munggahan dengan kemewahan. Sementara itu, di gang-gang sempit, piring-piring Munggahan mungkin hanya berisi lauk seadanya, namun tetap disantap dengan rasa syukur yang luar biasa.

Menanti Kepastian di Meja Isbat 

Di saat rakyat sibuk menghitung sisa saldo untuk stok sahur pertama, pemerintah baru akan menggelar Sidang Isbat pada Selasa (17/2) esok. Apakah puasa akan dimulai Rabu atau Kamis, ketidakpastian itu menambah dinamika di pasar sore ini. Banyak warga melakukan panic buying karena khawatir harga akan semakin “gila” jika hasil sidang mengumumkan puasa dimulai lebih awal.