IHSG menguat berkat sokongan saham konglomerat meski investor asing catat aksi jual masif.


KOSONGSATU.ID – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menunjukkan taji pada pertengahan Februari 2026. 

Setelah sempat mengalami fluktuasi tajam, indeks kebanggaan nasional ini berhasil mencatatkan tren positif selama tiga hari berturut-turut. Penguatan ini dipicu oleh akumulasi masif pada saham-saham berkapitalisasi besar milik konglomerat ternama, yang menjadi penyeimbang di tengah tekanan jual investor asing.

Berdasarkan data perdagangan terbaru per 15 Februari 2026, IHSG terpantau bergerak stabil di zona hijau dengan volume transaksi yang cukup tinggi. Menariknya, kenaikan ini terjadi saat pasar global sedang dalam posisi waspada. Kekuatan pasar modal Indonesia kali ini bersumber dari kepercayaan investor domestik yang mendominasi lantai bursa, memastikan kapitalisasi pasar tetap terjaga meski arus modal keluar masih membayangi.

Laporan statistik menunjukkan bahwa sebagian besar sektor saham saat ini berada dalam tren penguatan. Sentimen pasar yang membaik di awal pekan ini memberikan napas lega bagi para pelaku pasar, terutama setelah IHSG sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) pada level 9.134,70 poin pada 20 Januari 2026 lalu.

Meskipun terlihat perkasa, dinamika pasar sebenarnya menyimpan sebuah anomali yang signifikan. Data perdagangan pada periode 9 hingga 13 Februari 2026 mencatat bahwa investor asing justru melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai fantastis, mencapai Rp5,47 triliun. Namun, tekanan jual dari investor global tersebut terbukti tidak mampu meruntuhkan IHSG yang justru melakukan rebound kuat dalam sepekan terakhir.

Dominasi Investor Domestik dan Saham ‘Naga’

Realitas ini memperlihatkan pergeseran kekuatan yang menarik di pasar modal Indonesia. Investor domestik kini berperan sebagai penopang utama reli indeks dengan porsi beli yang sangat dominan.

Menurut data dari Warta Ekonomi, investor dalam negeri menguasai sekitar 68 persen dari total nilai perdagangan di bursa. Fenomena ini menandakan bahwa resiliensi pasar modal Indonesia mulai lepas dari ketergantungan absolut terhadap modal asing.