Fenomena mengerikan hantui Gaza saat ribuan warga dilaporkan “menguap” akibat bom termobarik. Suhu ekstrem 3.000°C melenyapkan jasad hingga ke tingkat biologis, memicu kritik keras atas genosida global.


KOSONGSATU. ID – Sebuah fenomena mengerikan kini menghantui warga Gaza. Investigasi terbaru dari Al Jazeera dan Middle East Eye mengungkap realitas kelam mengenai ribuan warga yang “menguap” tanpa jejak fisik akibat penggunaan senjata pemusnah materi organik.

Tragedi ini bukan sekadar statistik perang, melainkan sinyal lahirnya era baru peperangan yang melenyapkan manusia hingga ke tingkat biologis.

​Senjata Termobarik: Bola Api 3.000 Derajat Celsius

​Laporan militer menunjukkan bahwa intensitas serangan udara di wilayah padat penduduk Gaza melibatkan penggunaan bom termobarik. Ahli militer, Vasily Fatigarov, menjelaskan bahwa komposisi bubuk aluminium dan titanium dalam senjata ini menciptakan bola api ekstrem.

Berikut spesifikasi senjata Termobarik:

  1. Suhu Ekstrem: Mencapai 3.000°C, suhu yang cukup untuk melenyapkan materi organik secara instan.
  2. ​Dampak Biologis: Tim Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa di banyak lokasi ledakan, mereka tidak lagi menemukan jasad utuh, melainkan hanya “jejak biologis” yang menempel pada dinding bangunan.

​Tidak hanya pemakaian Termobarik, investigasi juga mengonfirmasi penggunaan amunisi buatan Amerika Serikat, termasuk bom MK-84, BLU-109, dan GBU-39 yang memiliki daya hancur luar biasa.

​Kritik Pedas: “Genosida Global” dan Impunitas Veto

​Pakar hukum internasional, Diana Buttu, menyebut keterlibatan negara-negara Barat dalam memasok senjata-senjata ini sebagai bentuk “genosida global.” Titik sentral kritik tertuju pada pelanggaran prinsip distinction—kegagalan membedakan antara kombatan dan warga sipil di pemukiman padat.

​Di sisi lain, tumpulnya taring International Court of Justice (ICJ) dan International Criminal Court (ICC) menghadapi hak veto di PBB dianggap sebagai “lonceng kematian” bagi sistem peradilan dunia. Tantangan hukum saat ini telah bergeser: bukan lagi sekadar membuktikan kejahatan perang, melainkan bagaimana hukum tetap relevan ketika bukti fisik (tubuh manusia) dilenyapkan tanpa sisa.

​Duka Tanpa Nisan: Hilangnya Hak Terakhir Korban

​Di Gaza, teknologi kini telah merampas hak paling mendasar manusia: pemakaman yang layak. Mahmoud Basal dari Pertahanan Sipil Gaza memberikan kesaksian memilukan tentang timnya yang seringkali hanya menemukan debu di balik reruntuhan.