Riset terbaru mengungkap tepung uwi ungu berpotensi menjadi bahan baku bioplastik biodegradable.


KOSONGSATU.ID–Pati uwi ungu berpeluang dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik, jenis plastik yang berasal dari sumber daya alam terbarukan dan lebih cepat terurai dibanding plastik konvensional berbasis minyak bumi. Bioplastik dapat terdegradasi oleh mikroorganisme menjadi air, karbon dioksida, dan biomassa dalam periode tertentu.

Potensi tersebut diungkap dalam riset berjudul Kajian Potensi Tepung Umbi Uwi Ungu (Dioscorea alata) Asal Kalimantan Barat sebagai Kandidat Bahan Baku Pembuatan Bioplastik. Penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Pangan Halal Volume 7 Nomor 1, Maret 2025.

Riset dilakukan oleh empat peneliti lintas perguruan tinggi, yakni Nelsy Dian Permatasari (Politeknik Tonggak Equator), Hyldegardis Naisali (Universitas Timor), Panggulu Ahmad Ramadhani Utoro (Universitas Mulawarman), dan Jatmiko Eko Witoyo (Institut Teknologi Sumatera).

Kaya Pati dan Senyawa Bioaktif

Peneliti menemukan tepung umbi uwi ungu mengandung polisakarida larut air dan pati dalam jumlah tinggi, dua komponen utama pembentuk bioplastik. Selain itu, kandungan senyawa bioaktif seperti antosianin dan fenolik dinilai berpotensi meningkatkan nilai fungsional bioplastik.

“Komponen kimia dan bioaktif tepung uwi ungu menunjukkan prospek aplikatif sebagai bahan baku bioplastik,” tulis tim peneliti dalam publikasi tersebut.

Dalam literatur, bioplastik berbasis biomassa—seperti polylactic acid (PLA), polyhydroxyalkanoate (PHA), polybutylene succinate (PBS), hingga bioplastik berbasis selulosa—dinilai mampu menekan emisi gas rumah kaca dan ketergantungan terhadap sumber energi tak terbarukan.

Peran Pati sebagai Pembentuk Film

Kandungan pati pada tepung uwi ungu tercatat mencapai 86,12 persen, yang terdiri atas amilosa sebesar 12,69–17,59 persen dan amilopektin 68,60 persen. Pati berperan penting dalam pembentukan film bioplastik karena sifatnya yang biodegradable dan mampu membentuk lapisan tipis.

Kandungan amilosa yang lebih tinggi diketahui meningkatkan ketahanan terhadap kelembaban, meski cenderung menurunkan elastisitas material film.

Kontribusi Protein dan Lemak

Selain pati, tepung uwi ungu juga mengandung protein sebesar 6,66–8,07 persen. Protein dinilai memiliki sifat mekanis dan penghalang yang baik, sehingga kerap dimanfaatkan dalam pengembangan film biodegradable untuk kemasan pangan.

Sementara itu, kadar lemak tepung uwi ungu relatif rendah, berkisar 0,09–0,53 persen. Meski kecil, lemak berperan dalam memperbaiki fleksibilitas dan menurunkan permeabilitas uap air pada bioplastik berbasis biopolimer.

Belum Memenuhi Standar SNI

Sementara itu, penelitian Albar et al. (2021) mencatat bahwa bioplastik berbahan pati uwi ungu dengan penambahan gliserol dan kitosan belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk plastik biodegradable. Parameter yang belum terpenuhi meliputi kuat tarik, elongasi, dan ketahanan air.

Temuan tersebut menunjukkan perlunya optimasi formulasi, komposisi bahan tambahan, serta proses produksi untuk meningkatkan karakteristik mekanis dan biodegradabilitas bioplastik berbasis uwi ungu.

Peluang Ekonomi bagi Petani

Di luar aspek lingkungan, pengembangan bioplastik dari uwi ungu dinilai berpotensi mendorong ekonomi petani dan agroindustri. Tanaman uwi relatif mudah dibudidayakan di berbagai kondisi tanah dan iklim tropis, sehingga berpeluang menjadi komoditas bernilai tambah.