Sabtu pukul 19.27 WIB, Kementerian Perhubungan memastikan operasional bandara berjalan normal. Enam jam kemudian, selembar kertas uji di Cengkareng memberi hasil positif dan tiga bandara ditutup satu per satu.
KOSONGSATU.ID — Ada satu kalimat pendek yang diunggah petugas pengamat ke laman Magma Indonesia pada Sabtu, 5 September 2026. Sekering itu bunyinya, tetapi di dalamnya tersimpan seluruh persoalan bangsa ini dalam berurusan dengan gunung api.
“CCTV pengamatan di lapangan OFF terkena lontaran.”
Kamera pemantau itu padam. Bukan karena pasokan listrik terputus, bukan pula karena jaringan menghilang. Gunung yang seharusnya diawasi justru melemparkan materialnya sendiri ke arah mata yang mengawasinya.
Sejak saat itu, pengamatan Anak Krakatau dikembalikan ke cara paling purba. Mata telanjang petugas di Pos Pasauran, Serang, dan di Kalianda, Lampung, memandang ke tengah selat, menunggu cahaya merah yang menyembur dari kejauhan.
Tahun 2026. Kita mengawasi salah satu gunung api paling termasyhur dalam sejarah peradaban dengan cara yang tidak jauh berbeda dari pengamat Belanda seratus empat puluh tiga tahun lalu.
Pukul 19.27, Pemerintah Memastikan Semuanya Normal
Kronologinya perlu ditata ulang jam demi jam. Di situlah persoalan sebenarnya berdiri.
Erupsi menerus bermula pada Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB, dan berlangsung tanpa jeda sampai Sabtu siang. Seismograf merekam amplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi 21.600 detik.
Enam jam penuh. Satu getaran yang tidak berhenti selama enam jam.
Kepala PVMBG Rita Susilawati menyebut rangkaian letusan pada 4 sampai 5 September ini sebagai yang tertinggi intensitasnya sejak gunung tersebut berstatus Siaga.
Pada Sabtu pukul 09.10 WIB, ASHTAM Nomor VAWR3739 diterbitkan — maklumat resmi mengenai sebaran abu vulkanik bagi dunia penerbangan.
Lalu pada Sabtu malam, pukul 19.27 WIB, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa menyampaikan keterangan yang kemudian dikutip hampir seluruh media nasional.

Kementerian Perhubungan memastikan operasional bandara berjalan normal pascaerupsi. Tiga bandara disebut secara khusus: Soekarno-Hatta, Pondok Cabe, dan Halim Perdanakusuma.
Dasarnya adalah pemantauan abu vulkanik memakai metode uji kertas di Soekarno-Hatta, yang sampai saat itu tidak mendeteksi abu sama sekali.
Enam jam kemudian, semuanya berbalik.
Pada Minggu dini hari, 6 September 2026, petugas mengulang uji kertas antara pukul 00.35 dan 01.05 WIB. Hasilnya positif. Abu vulkanik dari tengah Selat Sunda sudah mendarat di Cengkareng.
Pukul 01.30 WIB, ruang udara Soekarno-Hatta ditutup melalui NOTAM A3341/26 — maklumat resmi yang mengikat seluruh penerbang.
Sesudah itu, penutupan merambat seperti api di jerami kering.
Pukul 04.18 WIB, Bandara Radin Inten II di Lampung ditutup lewat NOTAM B1123/26. Pukul 04.52 WIB, penutupan Soekarno-Hatta diperbarui melalui NOTAM A3344/26, dengan perkiraan pembukaan kembali pukul 09.30 WIB.
Pukul 07.20 WIB, giliran Halim Perdanakusuma ditutup melalui NOTAM A3345/26, dengan perkiraan pembukaan pukul 10.00 WIB.
AirNav Indonesia menyebut penutupan tiga simpul penerbangan penting itu sebagai langkah mitigasi darurat untuk mengantisipasi ancaman abu vulkanik terhadap mesin pesawat.
Hitungan dampaknya menanjak dengan cepat.
Pada Sabtu pukul 22.00 WIB, angka yang beredar masih 33 penerbangan terdampak. Enam belas penerbangan internasional dibatalkan, tujuh tertunda, lima dijadwalkan ulang, ditambah empat penerbangan domestik yang dibatalkan dan satu yang dialihkan.
Pada Minggu pukul 07.31 WIB, angkanya sudah berubah bentuk sama sekali: 209 pergerakan penerbangan terganggu dan 22.798 penumpang terdampak sepanjang jendela penutupan.
Rute domestik yang paling terpukul adalah Makassar dengan enam belas pergerakan. Di jalur internasional, Singapura kehilangan sebelas pergerakan.
Hingga naskah ini ditutup pada Minggu, 6 September 2026, pukul 08.37 WIB, ketiga bandara itu belum dinyatakan resmi kembali beroperasi.
Pernyataan Dirjen Lukman F. Laisa sendiri tidak keliru. “Keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional, termasuk penyesuaian jadwal penerbangan oleh maskapai,” katanya.
Kalimat itu benar dan tidak bisa dibantah siapa pun.
Persoalannya bukan pada isi kalimatnya. Persoalannya pada jam berapa kalimat itu diucapkan — dan pada apa yang sudah terjadi selama enam puluh lima hari sebelumnya.
Dua Ratus Empat Puluh Letusan yang Tidak Menjadi Berita
Status Siaga Level III untuk Anak Krakatau tidak ditetapkan kemarin. Status itu sudah berlaku sejak 2 Juli 2026. Sejak hari itu sampai Sabtu lalu, PVMBG mencatat lebih dari 240 letusan.
Dua ratus empat puluh, selama enam puluh lima hari. Rata-rata hampir empat letusan setiap hari, berturut-turut, selama lebih dari dua bulan.
Berapa banyak dari 240 letusan itu yang menjadi berita utama? Berapa rapat koordinasi lintas lembaga yang digelar?
Berapa banyak warga Jakarta, Tangerang, Serang, dan Bandar Lampung yang mengetahui bahwa gunung di tengah selat itu meletus hampir setiap hari sejak awal Juli?
Nyaris tidak ada.
Sampai akhirnya abu itu menempel di badan pesawat, dan seluruh rantai komando bergerak dalam hitungan menit.
Inilah wajah paling jujur dari cara kita mengelola risiko. Sistemnya sangat responsif, tetapi hanya terhadap bukti yang sudah terlambat.
Kita memiliki NOTAM yang terbit dalam hitungan menit, AirNav yang memantau dua puluh empat jam, dan tiga bandara yang bisa ditutup nyaris bersamaan.
Yang tidak kita miliki adalah kemauan membaca dua ratus empat puluh letusan sebagai kalimat panjang yang sedang diucapkan gunung itu sejak Juli.
Angka-angka yang Tidak Saling Berbicara
Ada satu lagi yang perlu diketahui pembaca secara telanjang, karena menyangkut hak orang banyak atas informasi yang tidak membingungkan.
PVMBG menyatakan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Pada pengamatan pagi, kolom abu tercatat sekitar 300 meter di atas puncak.
Rita Susilawati menyampaikannya apa adanya: “Kami tidak bisa mengamati tinggi kolom erupsi, tapi secara visual kami melihat sinar merah dan erupsi.”
Pada saat yang hampir bersamaan, Volcanic Ash Advisory Centre Darwin di Australia mendeteksi sebaran abu sampai FL480 — sekitar 14 hingga 15 kilometer, setara 48.000 kaki — bergerak ke barat pada kecepatan 50 sampai 74 knot.
Tiga ratus meter berhadapan dengan lima belas kilometer. Selisihnya lima puluh kali lipat.
Perbedaan itu sebenarnya bisa dijelaskan secara teknis. Satu lembaga mengandalkan pengamatan visual dari darat yang malam itu terhalang dan kameranya baru saja padam. Satu lembaga lagi membaca citra satelit dari ketinggian.
Keduanya tidak berbohong.
Tetapi bagi warga Banten dan Lampung yang membuka telepon genggamnya pada Sabtu pagi, dua angka itu melahirkan dua dunia yang berbeda. Tidak satu pun lembaga menjembatani keduanya dengan penjelasan.
Sementara itu, di Tokyo, Badan Meteorologi Jepang mendeteksi aktivitas seismik pada pukul 04.00 waktu setempat atau 02.00 WIB, lalu menerbitkan pemantauan ancaman tsunami.
Rujukannya adalah preseden letusan Hunga Tonga pada Januari 2022 — letusan yang memicu perubahan tekanan atmosfer dan gangguan permukaan laut jauh dari sumbernya.
Silakan direnungkan sejenak. Lembaga meteorologi negara yang berjarak lebih dari lima ribu kilometer memantau kemungkinan tsunami dari gunung di halaman belakang rumah kita, dan menjadikan Tonga sebagai pembanding.
Kita sendiri, pada jam yang sama, sedang menempelkan kertas ke badan pesawat.

1883: Dunia Memperoleh Ilmu, Banten Memperoleh Kuburan
Selat Sunda bukan tempat yang miskin ingatan. Justru sebaliknya.
Inilah selat yang paling banyak mengajari umat manusia tentang gunung api, dan hampir seluruh pelajaran itu dibayar dengan nyawa orang Nusantara.
Puncak letusan Krakatau terjadi pada 27 Agustus 1883, dengan empat ledakan besar berturut-turut pada pukul 05.30, 06.44, 10.02, dan 10.41 waktu setempat.
Dentumannya terdengar sampai sekitar 4.800 kilometer jauhnya, mencapai Perth di Australia Barat dan Pulau Rodrigues di Mauritius.
Gelombang tekanannya tercatat mengelilingi bumi sebanyak tujuh kali dan masih terekam sampai lima hari sesudah letusan.
Soal korban, angkanya sendiri sudah menjadi perdebatan yang belum selesai. Pembukuan resmi pemerintah Hindia Belanda mencatat setidaknya 36.417 jiwa. Sejumlah sumber lain menaksir korbannya melampaui 120.000 jiwa.
Selisih delapan puluh ribu nyawa itu bukan sekadar persoalan statistik. Ia menunjukkan bahwa negara kolonial hanya menghitung apa yang sanggup dan mau dihitungnya.
Yang terjadi sesudahnya justru lebih pahit lagi.
Pemerintah kolonial menugaskan Rogier Verbeek menyusun laporan menyeluruh yang terbit pada 1885 dengan judul sederhana, Krakatau. Monograf itu kemudian diakui sebagai salah satu tonggak lahirnya vulkanologi modern.
Kabel telegraf yang baru saja terbentang membuat kabar letusan tersiar ke seluruh dunia dalam hitungan jam. Krakatau pun kerap disebut sebagai bencana global pertama dalam sejarah pemberitaan.
Dunia memperoleh ilmu. Dunia memperoleh sistem. Dunia memperoleh disiplin keilmuan yang sama sekali baru.
Dan penduduk pesisir Banten serta Lampung memperoleh kuburan massal.
Pola itu terus berulang sampai hari ini: kita menjadi laboratoriumnya, orang lain menjadi ilmuwannya.
Seratus empat puluh tiga tahun kemudian, ketika kamera pemantau kita padam terkena lontaran, yang membaca sebaran abunya adalah pusat data di Darwin dan yang menerbitkan pemantauan tsunami adalah badan meteorologi di Tokyo.
Ranggawarsita Menulis Empat Belas Tahun Sebelum Gunung Itu Meledak
Ada satu kepingan yang jarang dibicarakan, dan justru di situ letak ironinya.
Pujangga Jawa Ranggawarsita menulis Pustaka Raja Purwa pada 1869. Di dalamnya ia menceritakan letusan Gunung Kapi — yang belakangan dikaitkan orang dengan Krakatau — yang disebut memisahkan Jawa dan Sumatra pada tahun 416 Masehi.
Empat belas tahun sesudah naskah itu ditulis, Krakatau benar-benar meledak.
Saya tidak akan berpura-pura bahwa catatan Ranggawarsita adalah dokumen ilmiah. Para ahli geologi justru meragukannya.
Zeilinga de Boer dan Donald Theodore Sanders menyatakan bahwa memang terdapat setidaknya dua periode letusan besar di Krakatau, tetapi peristiwanya berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun lalu, bukan pada 416 Masehi.
Lebih jauh lagi, hubungan sebab-akibatnya justru terbalik. Krakatau terbentuk sebagai hasil dari gerak tektonik yang memisahkan Jawa dan Sumatra, bukan sebagai penyebab pemisahannya.
Ranggawarsita keliru soal tanggal dan keliru soal mekanisme.
Tetapi ia tidak keliru soal yang paling pokok — bahwa selat itu pernah dan akan kembali mengamuk, dan bahwa pengetahuan semacam itu wajib diwariskan, meskipun lewat tembang.
Di sinilah tradisi lisan Nusantara menyimpan sesuatu yang belum tergantikan oleh seismograf mana pun: kesadaran bahwa bahaya tidak berhenti hanya karena kita berhenti membicarakannya.
Nenek moyang kita mengarsipkan bencana lewat naskah dan tembang bukan karena mereka tidak punya alat. Mereka memahami bahwa yang harus diwariskan bukan angkanya, melainkan kewaspadaannya.
2018: Gelombang yang Datang Tanpa Satu Pun Sirene
Kalau 1883 terasa terlalu jauh, ada pelajaran yang jauh lebih dekat dan jauh lebih menyakitkan.
Pada 22 Desember 2018, longsoran tubuh Anak Krakatau memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Data yang dirilis pada awal Januari 2019 mencatat 437 orang meninggal dan 14.059 orang terluka.
Tidak ada gempa yang mendahuluinya. Karena itu, sistem peringatan dini tsunami yang dibangun berbasis pembacaan gempa tektonik tidak berbunyi sama sekali.
Gelombang itu tiba di pantai tanpa satu pun sirene yang menyalak.
Ini bukan tuduhan. Ini pengakuan resmi.
Dalam siaran persnya pada 9 November 2023, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa Indonesia pernah mengalami dua tsunami yang tidak dipicu gempa: Palu pada September 2018 akibat longsoran, dan Selat Sunda pada Desember 2018 akibat aktivitas vulkanik.
Sistem peringatan dini yang ada, katanya, sebagian besar dirancang untuk gempa megathrust. Sistem itu belum efektif mendeteksi tsunami yang dipicu longsoran bawah laut maupun letusan gunung api.
Bagaimana kondisi gunung itu sekarang?
Sebelum 2018, tinggi Anak Krakatau mencapai 338 meter. Pada 28 Desember 2018, PVMBG mengumumkan tingginya tersisa 110 meter, dengan material yang hilang ditaksir 150 sampai 180 juta meter kubik.
Pada 2019, PVMBG mencatat ketinggiannya sudah pulih menjadi 156,9 meter.
Laporan aktivitas sepanjang 2026 masih memakai acuan puncak sekitar 157 meter di atas permukaan laut. Sampai naskah ini disusun, belum ditemukan publikasi hasil survei ketinggian terbaru untuk tahun ini.
Artinya, secara jujur harus dikatakan begini. Penilaian PVMBG bahwa pertumbuhan tubuh gunung itu masih relatif kecil dibandingkan massa yang runtuh pada 2018 memang berpijak pada data.
Rita Susilawati menegaskannya dengan kalimat yang tegas: “Hasil pantauan kami, aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini tak menimbulkan potensi gelombang tsunami.”
Kritik dalam tulisan ini bukan terhadap kesimpulan itu. Kritiknya terletak satu lapis di bawahnya, pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar.
Sebuah kesimpulan tentang keselamatan puluhan ribu warga pesisir seharusnya ditegakkan di atas pemantauan yang utuh.
Sementara itu, kamera pengamatan lapangannya sedang padam, dan pengamatan dikembalikan ke mata telanjang petugas dari jarak puluhan kilometer.
Pada Desember 2018 pun tidak ada seorang pun yang mengira longsoran itu akan terjadi. Bukan karena para ahli lalai, melainkan karena alat untuk mengetahuinya memang belum terpasang.
Memayu Hayuning Bawana
Falsafah Jawa merumuskan hubungan manusia dengan alam lewat satu frasa yang sering dikutip tetapi jarang dihayati: memayu hayuning bawana — merawat dan memperindah keselarasan dunia.
Di dalamnya terkandung sikap yang berbeda secara mendasar dari cara kerja teknokrasi modern.
Gunung tidak dipandang sebagai ancaman yang harus ditaklukkan atau risiko yang harus dihitung. Gunung dipandang sebagai bagian dari keseimbangan yang harus terus-menerus dibaca tanda-tandanya.
Membaca tanda. Bukan menunggu bukti.
Perbedaannya terletak persis di situ. Membaca tanda berarti bergerak pada letusan ke sepuluh, ke lima puluh, ke seratus.
Menunggu bukti berarti mengumumkan semuanya normal pada pukul 19.27 WIB, lalu menutup tiga bandara mulai pukul 01.30 WIB karena selembar kertas uji akhirnya menangkap abu yang sudah delapan minggu beterbangan.
Maka pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Anak Krakatau berbahaya. Pertanyaannya jauh lebih sederhana, dan jauh lebih memalukan.
Mengapa kamera pemantau di gunung api paling terkenal di dunia bisa padam tanpa penggantian segera? Berapa anggaran pemeliharaan instrumen pemantauan PVMBG pada 2026, dan berapa yang benar-benar terserap?
Mengapa 240 letusan dalam enam puluh lima hari tidak cukup untuk menerbitkan satu pun peringatan dini yang bersifat antisipatif, sementara satu lembar kertas sanggup menutup tiga bandara dalam hitungan menit?
Mengapa Tokyo lebih dahulu memantau ancaman tsunami di selat kita sendiri?
Dan mengapa, setelah 36.417 nyawa pada 1883 dan 437 nyawa pada 2018, Selat Sunda masih kita perlakukan sebagai kabar mendadak, bukan sebagai kewajiban yang dijaga setiap hari?
Gunung itu sudah berbicara sejak 2 Juli. Berulang-ulang, dan berulang-ulang, dan berulang-ulang.
Kita saja yang baru mendengarnya ketika abunya menempel di sayap pesawat.***





Tinggalkan Balasan