Langit Selat Sunda kembali memerah oleh erupsi Anak Krakatau. Jauh di masa lalu, kaldera ini melahirkan kiamat 1883 yang memicu pemberontakan Banten, lalu memunculkan daratan baru pada 1927. Bagaimana sejarah panjang raksasa ini terukir?

KOSONGSATU.ID-Malam di pesisir Banten kembali bergetar kala langit Selat Sunda memerah oleh kilatan petir dan muntahan lava fountain dari Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026.

Dentuman yang menggetarkan kaca-kaca jendela Pos Pemantau Pasauran seolah membangkitkan kembali memori purba perairan ini—sebuah kaldera raksasa yang letusannya tidak hanya mengubah peta geografi dunia, tetapi juga pernah menjadi penyulut alur sejarah perlawanan rakyat di masa kolonial.

Kiamat Kecil 1883 dan Gejolak Sosial Banten

Jauh sebelum dentuman tahun 2026 terdengar, pesisir Selat Sunda pernah mengalami “kiamat kecil” pada Agustus 1883. Letusan sang induk, Gunung Krakatau, tak hanya menggelapkan langit dunia dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa akibat sapuan tsunami raksasa, tetapi juga melumpuhkan urat nadi ekonomi Banten.

Abu vulkanik yang tebal mematikan lahan pertanian, memicu kelaparan hebat, dan menyebarkan wabah penyakit (panyakit sasalad) di kalangan penduduk pribumi yang terpinggirkan.

Penderitaan pascabencana ini tak mendapat empati yang layak dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Beban pajak (seperti capitate-stelsel) tetap mencekik leher rakyat yang tengah kelaparan. Seperti yang dicatat oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo, rentetan bencana alam, wabah, dan penindasan kolonial ini menciptakan keputusasaan yang bermuara pada radikalisasi.

Penderitaan pasca-Krakatau diam-diam memupuk perlawanan rakyat yang kemudian meledak dalam Pemberontakan Petani Banten pada Juli 1888, sebuah perlawanan heroik melawan tirani yang dipimpin oleh para kiai dan petani lokal.

Kelahiran Sang “Anak” dari Rahim Samudra (1927-1930)

Selama empat dekade setelah letusan 1883, kaldera Selat Sunda seolah tertidur lelap, menyembunyikan misteri di dasar samudra. Namun, pada akhir tahun 1927, para nelayan lokal dikejutkan oleh gelembung-gelembung air raksasa dan kepulan asap pekat yang mendidih dari permukaan laut.

Catatan arsip penjajah merekam betapa terkesimanya para ahli geologi Belanda, seperti Dr. Ch.E. Stehn, ketika menyaksikan bongkahan material vulkanik terus dimuntahkan dari rahim samudra.

Fase pembentukan ini berlangsung dramatis. Gugusan daratan hitam yang tersusun dari pasir dan batu apung itu sempat beberapa kali muncul dan tersapu ombak, sebelum akhirnya benar-benar memantapkan diri menjadi pulau vulkanik baru pada Agustus 1930.

Gunung baru inilah yang kemudian dibaptis sebagai “Anak Krakatau”—sang pewaris takhta kaldera yang tumbuh agresif, rata-rata setinggi 4 hingga 6 meter setiap tahunnya.

Trauma 2018 dan Evolusi yang Berulang

Sebagai gunung api muda, Anak Krakatau terus membangun tubuhnya dengan material letusan. Namun, sifatnya yang rapuh membawa petaka baru pada Desember 2018.

Longsoran sebagian tubuh gunung ke laut memicu tsunami tanpa peringatan gempa tektonik, merenggut ratusan nyawa di pesisir Banten dan Lampung.

Peristiwa ini mencerminkan sifat dasar sang induk; ia menghancurkan dirinya sendiri untuk lahir dan membentuk morfologi yang baru.

Menatap Nyala Merah 2026

Kini, pada September 2026, Anak Krakatau kembali menunjukkan geliatnya. Kepala Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Pasauran, Deni Mardiono, mencatat abu vulkanik tipis kembali turun menyelimuti pesisir.

Meski aktivitasnya dalam Status Siaga (Level III) dan menyajikan visual erupsi yang mengerikan, Badan Geologi menilai tubuh gunung yang terbentuk pasca-2018 masih terlalu kecil untuk memicu tsunami besar dalam waktu dekat. Masyarakat diminta menjauhi radius bahaya 3 kilometer, mengamati dengan saksama proses alam yang tengah menyusun ulang bentuk sang gunung.

Kisah Gunung Anak Krakatau bukan sekadar catatan vulkanologi, melainkan saksi bisu perjalanan manusia Nusantara.

Dari kiamat 1883 yang membidani lahirnya perlawanan rakyat 1888, hingga erupsi masa kini yang terus menuntut kewaspadaan, gunung ini mengajarkan satu hal fundamental: di Selat Sunda, sejarah manusia dan kekuatan geologis akan selalu bertaut. Kita hidup di atas bentang alam yang berdenyut, menuntut kita untuk terus merawat memori kolektif agar selamat dari amarah raksasa yang tak pernah benar-benar tidur.***