Data resmi bilang semua kelompok simpanan tumbuh subur, tapi rakyat kecil mulai berpindah dari makan tabungan ke makan utang. Angka siapa yang harus dipercaya?

KOSONGSATU.ID— Ketua Dewan Komisioner LPS menyampaikan dalam konferensi pers KSSK awal Agustus bahwa simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16 persen secara tahunan. Seluruh kelompok simpanan disebut mencatat pertumbuhan tahunan tanpa kecuali.

Sebulan sebelumnya, pejabat yang sama bahkan menegaskan fenomena makan tabungan tidak terjadi, karena tabungan di bawah Rp100 juta maupun di atas Rp5 miliar semuanya bergerak naik.

Rapi. Meyakinkan. Ada angkanya pula. Sayangnya, angka itu hanya menceritakan berapa banyak uang yang masuk ke bank secara total—bukan berapa banyak uang yang tersisa di rekening satu orang setelah gajian habis buat cicilan dan susu anak.

Rp3,1 Juta Menyusut Jadi Rp1,7 Juta, tapi “Semua Tumbuh”

Sementara regulator memegang data agregat, Perbanas memegang data yang lebih personal: rata-rata saldo per rekening.

Riset mereka mencatat rata-rata simpanan bersaldo di bawah Rp100 juta anjlok dari Rp3,1 juta per rekening pada 2018 menjadi Rp1,8 juta pada 2024, lalu terus melorot ke sekitar Rp1,7 juta pada Mei 2026.

Chief Economist Perbanas bahkan menegaskan tren makan tabungan sudah berlangsung sejak 2018 dan makin meningkat hingga Mei 2026.

Jadi begini logikanya: total tabungan boleh naik kalau jumlah rekeningnya bertambah, sementara isi tiap rekening makin tipis. Sama seperti bilang “populasi ikan di akuarium bertambah” padahal yang terjadi ikannya makin kurus satu-satu.

Statistiknya tidak bohong. Ceritanya saja yang beda total.

Naik Kelas dari “Mantab” ke “Matang”

Kalau dulu istilah bertahan hidupnya “mantab”—makan tabungan—sekarang sudah ada level lanjutannya. Chief Economist Permata Bank mengungkapkan kelompok kelas menengah bergeser polanya, dari memakai tabungan menjadi berutang.

Pergeseran ini terjadi seiring kelas menengah Indonesia menyusut hampir 11 juta orang sepanjang 2019-2025. Ekonomi memang tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, tapi kualitas kredit konsumsi memburuk.

Loan at risk tumbuh 10,3 persen, melampaui pertumbuhan kredit lancar yang hanya 5,6 persen.

Ekonom Universitas Paramadina menjelaskan biaya hidup naik tajam dan tidak tertangkap akurat oleh inflasi, karena sampel inflasi tidak merepresentasikan pola dan gaya hidup masyarakat, khususnya Gen Z.

Ia menambahkan bahwa yang masih punya tabungan justru terhitung beruntung, sementara yang sudah kehabisan terpaksa meminjam lewat pinjaman online berbunga tinggi.

Semacam sistem kasta baru: kasta atas masih bisa makan tabungan sendiri, kasta bawah sudah harus makan utang orang lain.

Sementara Itu, Rekening Dolar Melesat 85 Persen

Di paragraf yang sama laporan Perbanas, ada detail yang jarang disorot: jumlah rekening dolar Amerika Serikat tembus 16,53 juta atau 2,4 persen dari total rekening simpanan nasional.

Angka itu melonjak 85 persen dibanding bulan sebelumnya, dengan nominal mencapai Rp1.741,46 triliun—naik 19,5 persen secara tahunan. Kebetulan yang menarik, di saat yang sama Bank Indonesia sempat mengerek suku bunga acuan beberapa kali sejak Mei.

Sebabnya, rupiah terdepresiasi hingga tembus di atas Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat.

Jadi begini potretnya: satu kelompok masyarakat sibuk menghitung sisa saldo untuk beli beras, kelompok lain sibuk memindahkan dananya ke rekening dolar biar aman dari rupiah yang goyang.

Dua-duanya sama-sama “menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi”. Cuma beda kelas, beda strategi bertahan hidup.

Jadi kalau ditanya siapa yang benar, LPS atau Perbanas—jawabannya dua-duanya benar. LPS benar secara neraca, Perbanas benar secara nasib. Rakyat kecil tinggal pilih mau percaya angka di laporan resmi atau angka di rekeningnya sendiri.

Yang jelas, kalau nanti muncul istilah baru setelah “mantab” dan “matang”, kemungkinan besar itu bukan prestasi ekonomi—cuma tanda bahwa kamusnya sudah kehabisan eufemisme untuk kata “bangkrut pelan-pelan”.***