​Demokrasi modern dinilai melupakan hak alam dan spiritualitas. Di tengah kemunduran ini, tradisi ruwat desa menjadi cermin peradaban yang semestinya diadaptasi pada level negara.

KOSONGSATU.ID – Emha Ainun Nadjib selaku budayawan dan pemikir Islam menyebut sistem demokrasi modern di Indonesia mengalami kemunduran kemanusiaan yang luar biasa. Kegagalan ini dipicu oleh aktivitas eksploitasi alam tanpa dilandasi kesadaran spiritual.

​Tindakan perusakan lingkungan melalui pertambangan menjadi bukti nyata penyempitan pandangan manusia modern. “Sistem kita sangat dekaden karena tidak memberikan hak kepada makhluk Allah selain manusia,” kata Emha.

​Ihwal kemunduran tersebut, ia membandingkan kegagalan negara dengan tingginya nilai spiritualitas pada masyarakat desa. Warga desa dinilai jauh lebih maju karena tetap mempertahankan tradisi ruwat atau merti desa.

​Ketiadaan kesadaran ini menempatkan negara jauh tertinggal dalam peradaban spiritual. “Kita kehilangan tradisi Ruwat Negoro yang menghargai alam beserta isinya,” kata Emha menambahkan konteks bernegara.

​Akulturasi Budaya dan Redefinisi Syirik

​Praktik merawat alam dan menolak bala ini salah satunya masih lestari melalui Ruwatan Agung oleh Komunitas Tlasih 87 di Mojokerto. Ritual ini memadukan kelengkapan tradisi Jawa dengan doa lintas agama.

​Terkait penggunaan sarana budaya seperti kemenyan dan keris, Emha meluruskan bahwa kemusyrikan tidak terletak pada benda fisik. Ia menegaskan bahwa syirik berada di dalam perangkat lunak atau cara berpikir manusia.