Perusahaan kecerdasan buatan dilaporkan memborong dan menghancurkan buku langka dari seluruh dunia. Hal ini dilakukan demi menyedot data untuk melatih mesin pintar dan menghindari jerat hak cipta.

KOSONGSATU.ID – ​Dosen sastra University of Barcelona, Marcal Font i Espi, menyoroti perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang menghancurkan buku. Perusahaan itu memborong buku kuno secara global untuk disedot datanya. Salinan fisik dihancurkan agar terhindar dari pelanggaran hak cipta.

​”Saya tidak menentang AI. Saya paham buku dan pengetahuan lama harus ditransfer ke format baru, namun digitalisasi harus dilakukan dengan benar tanpa menghancurkan aslinya,” kata Font i Espi.

​Ihwal penghancuran ini bermula dari kebutuhan perusahaan AI di Silicon Valley yang mengalami data wall atau kehabisan pasokan karya buatan manusia. Mereka membeli hingga jutaan buku fisik sekaligus. Setelah tiba, jilid buku dipotong menggunakan mesin hidrolik lalu dibuang.

​Celah Hukum Hak Cipta

​Langkah radikal tersebut merujuk pada putusan hakim di pengadilan California, Amerika Serikat. Hakim menilai pemindaian isi buku menjadi format digital yang diikuti penghancuran fisik bukan pelanggaran hak cipta. Praktik itu dipandang sebagai transformasi, bukan penggandaan.

​Profesor hukum digital dari Cornell University, James Grimmelmann, mengkritik celah hukum tersebut. “Hukum hak cipta Amerika Serikat tidak peduli dengan dokumen asli dan artefak fisik, hukum memperlakukan semua buku sebagai salinan,” ucap Grimmelmann.

​Sebelumnya, perusahaan AI Anthropic telah merekrut mantan eksekutif Google Books, Tom Turvey, pada Februari 2024. Turvey ditugaskan mencari pasokan buku lama untuk melatih model AI. Karena lisensi penerbit dinilai lambat, ia beralih membeli buku fisik secara grosir.

​Menyasar Toko Buku Langka

​Selain itu, perburuan data ini menyasar toko buku langka di berbagai negara. Melansir The Telegraph, pemilik toko buku kuno di Belanda, Pieter de Vries, mendapat tawaran mencurigakan pada pertengahan Juni 2026. Perusahaan 2077 AI bermaksud membeli 3.000 judul buku lawas sekaligus.