Kabut tipis menyelimuti Candi Gedong Songo saat coretan tangan jahil merusak batu kuno abad ke-9.
KOSONGSATU. ID – Gulungan kabut putih perlahan turun menyelimuti lereng selatan Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang. Di balik udara dingin yang menusuk tulang, berdirilah gugusan batu megah saksi bisu kejayaan masa lalu.
Candi Gedong Songo menawarkan harmoni visual yang memanjakan mata; perpaduan apik antara arsitektur sakral Hindu dan kemegahan alam pegunungan. Namun, jika Anda melangkah lebih dekat dan mengamati relief-relief kuno tersebut, sebuah pemandangan miris akan langsung mengusik sanubari.
Batu-batu andesit berusia ratusan tahun itu kini harus menanggung beban modernitas yang keliru. Aksi coret-coret dan goresan tajam oleh oknum wisatawan yang tidak bertanggung jawab mengotori permukaan situs purbakala ini.
Jejak vandalisme tersebut menjadi tamparan keras bagi upaya pelestarian warisan budaya nasional kita. Penjaga situs terus berkejaran dengan waktu, membersihkan sisa-sisa kebebalan manusia demi mempertahankan keaslian sejarah.
”Setiap hari kami berpatroli mengelilingi kawasan candi. Sayangnya, masih saja ada tangan-tangan jahil yang nekat menggores dinding batu menggunakan koin atau tipe-x saat petugas sedang lengah. Tindakan egois ini sangat merusak nilai sejarah yang tidak bisa kita nilai dengan uang,” ungkap salah satu Petugas Informasi Kawasan Candi Gedong Songo, kepada Kosongsatu.id, Sabtu (4/7/2026) lalu.
”Kalau candinya rusak atau dicorat-coret sampai sepi pengunjung, kami para pedagang kecil di sini mau mencari nafkah dari mana lagi? Tolonglah para pengunjung, nikmati keindahannya saja, jangan merusak batu candinya,” ujar Ibu Sumi (59), salah seorang penjual makanan tradisional di area wisata.
Mantan Direktur Perlindungan Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Judi Wahjudin, pernah menyoroti bahwa ancaman terhadap Candi Gedong Songo memang datang dari dua arah.
Selain ulah destruktif manusia berupa vandalisme, faktor alam turut mempercepat degradasi fisik bangunan. Cuaca ekstrem pegunungan memicu pelapukan batuan, sementara topografi lereng yang curam menempatkan situs ini pada risiko bencana tanah longsor yang membayangkan eksistensi fisik candi kapan saja.




Tinggalkan Balasan