Guna meredam tingkat kerusakan yang semakin parah, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menerapkan Sistem Zonasi. Kebijakan ini merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 446/M/2021. Pemerintah membagi kawasan cagar budaya ini ke dalam empat area pelestarian yang ketat:
- Zona Inti: Area utama pelindungan langsung untuk menjaga bangunan candi agar terhindar dari penurunan kualitas fisik dan degradasi nilai pentingnya.
- Zona Penyangga: Area yang mengelilingi zona inti, berfungsi membatasi serta mengendalikan kegiatan yang berisiko merusak situs utama.
- Zona Pengembangan: Ruang pemanfaatan terbatas untuk rekreasi wisata, konservasi lingkungan, lanskap budaya, hingga kegiatan keagamaan.
- Zona Penunjang: Area yang menampung sarana prasarana pendukung pariwisata dengan tetap menyelaraskan diri pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Semarang.
Kompleks Purbakala Warisan Dinasti Sanjaya
Menilik lembar sejarahnya, Thomas Stamford Raffles pertama kali menemukan kompleks megah ini pada tahun 1804. Candi Gedong Songo merupakan peninggalan adiluhung Kerajaan Mataram Kuno di bawah kekuasaan Dinasti Sanjaya pada abad ke-9. Melalui perjalanan panjang, pemerintah akhirnya menetapkan situs ini sebagai kawasan cagar budaya nasional pada tahun 2015.
Masyarakat purba membangun kompleks ini sebagai tempat pemujaan dewa-dewa Hindu. Keberadaan arca penting seperti arca Siwa, Ganesha, Durga, Nandiswara, dan Mahakala memperkuat fungsi spiritual tersebut.
Dari segi arsitektur, corak bangunan Gedong Songo memperlihatkan kemiripan yang erat dengan karakter Candi Dieng, menandakan adanya jalinan historis dan kultural yang kuat di masa lampau.
Daya Tarik Magis Gedong Songo
Tak sekadar menjadi monumen beku, Gedong Songo memancarkan daya tarik wisata yang begitu komplet. Pengunjung tidak hanya belajar sejarah Hindu, tetapi juga bisa merasakan nuansa mistis dan spiritual yang kental. Hingga hari ini, umat Hindu masih aktif menggunakan area candi untuk menggelar berbagai ritual keagamaan ritual keagamaan suci.



Tinggalkan Balasan