AS dinilai sulit fokus menghadapi Tiongkok selama masih memikul beban keamanan Teluk. Karena itu, Peter Rodgers mendorong Washington membuka jalan diplomasi dengan Iran.


KOSONGSATU.ID — Amerika Serikat dinilai sulit memusatkan perhatian pada persaingan strategis dengan Tiongkok selama masih menanggung beban keamanan besar di kawasan Teluk.

Alasan itulah yang membuat pengamat hubungan internasional Peter Rodgers mendorong Washington mengubah pendekatan terhadap Iran. Dalam opini di Middle East Monitor pada 3 Mei 2026, Rodgers menilai AS perlu membuka kesepakatan jangka panjang dan kemitraan keamanan terbatas dengan Teheran.

Menurut Rodgers, kebijakan lama AS di Timur Tengah terlalu banyak menyerap sumber daya militer, diplomatik, dan politik. Washington terus menjaga sekutu Teluk, sementara tantangan utama abad ini justru bergerak ke Indo-Pasifik.

Beban Teluk Menghambat Fokus AS

Rodgers menilai ketergantungan AS pada monarki Teluk telah menjadi beban strategis. Ia menyebut sejumlah sekutu Teluk lebih banyak berperan sebagai “konsumen keamanan” dibanding penghasil stabilitas kawasan.

Dalam pandangannya, AS selama ini harus menjaga pangkalan, mengerahkan kapal perang, dan mengelola krisis berulang untuk melindungi negara-negara yang masih bergantung pada payung keamanan Washington.

Pola itu dinilai membuat AS terus terseret dalam ketegangan Timur Tengah. Rodgers mengaitkannya dengan konflik kawasan, termasuk Yaman, yang ikut memperbesar biaya politik dan strategis Washington.

Mengapa Iran Dianggap Penting?

Rodgers menilai Iran berbeda dari sekutu kecil AS di Teluk. Dengan populasi besar, wilayah luas, kapasitas militer mandiri, dan pengaruh regional, Iran dipandang sebagai aktor yang tidak bisa diabaikan dalam kalkulasi keamanan Timur Tengah.

Karena itu, Rodgers berpendapat stabilitas jangka panjang di Irak, Afganistan, dan kawasan Teluk sulit dibangun tanpa melibatkan Teheran. Menurutnya, mengisolasi Iran justru membuat ruang diplomasi makin sempit.

Rodgers juga menggunakan kesepakatan nuklir JCPOA sebagai contoh bahwa Iran dapat merespons insentif diplomatik ketika kepentingannya dihitung dalam kerangka kesepakatan yang jelas.

Faktor Tiongkok dan Selat Hormuz

Dorongan Rodgers juga berkaitan dengan posisi Tiongkok. Ia menilai tekanan berkepanjangan dari Barat membuat Teheran semakin bergantung pada Beijing, termasuk dalam hubungan ekonomi dan energi.

Jika AS terus menutup pintu terhadap Iran, Rodgers memperkirakan Teheran akan semakin dekat dengan blok anti-Amerika. Sebaliknya, kesepakatan bertahap dinilai dapat menarik Iran kembali ke ekonomi global dan mengurangi ruang pengaruh Tiongkok di Timur Tengah.

Isu ini makin sensitif karena Selat Hormuz kembali menjadi perhatian global. Reuters melaporkan pada 4 Mei 2026 bahwa Menteri Keuangan AS Scott Bessent meminta Tiongkok meningkatkan diplomasi terhadap Iran terkait pembukaan kembali jalur strategis tersebut.

Bagi Rodgers, pendekatan militer terhadap Iran hanya akan memperbesar risiko gangguan energi global. Sebaliknya, jalur diplomasi dinilai lebih memungkinkan AS mengurangi beban di Teluk tanpa sepenuhnya kehilangan pengaruh kawasan.

Bukan Aliansi Penuh

Rodgers tidak mendorong AS menjadikan Iran sebagai sekutu formal. Ia lebih menekankan gagasan “penyeimbang lepas pantai” atau offshore balancing, yakni strategi ketika Washington mengurangi kehadiran langsung, tetapi tetap menjaga pengaruh melalui kesepahaman terbatas dengan aktor kunci.

Dengan beban Timur Tengah yang lebih terkendali, Rodgers menilai AS dapat memusatkan sumber daya ke Indo-Pasifik. Kawasan itu disebutnya sebagai medan utama persaingan Washington dengan Beijing pada abad ini.***