Kartini mewarisi darah ulama tasawuf dan menemukan makna Islam lewat tafsir berbahasa Jawa — sebuah sisi yang kerap luput dari peringatan Hari Kartini.
KOSONGSATU.ID – Nama Raden Adjeng Kartini paling lekat dengan narasi emansipasi dan pendidikan perempuan. Slogan Habis Gelap Terbitlah Terang begitu melekat pada sosoknya hingga dimensi lain dari hidupnya kerap tenggelam.
Perjalanan spiritualnya — yang berakar pada darah ulama dan tumbuh lewat pergulatan batin yang panjang — justru menjadi sisi paling dalam yang jarang disorot publik.
Secara nasab, Kartini adalah cucu dari K.H. Madirono, seorang guru agama di Teluk Awur, Jepara, dan Nyai Haji Siti Aminah. Dari jalur ibunya, M.A. Ngasirah, ia mewarisi akar religiositas Islam yang kuat.
Ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, mulanya menjabat wedana di Mayong sebelum naik menjadi Bupati Jepara. Perpaduan dua garis keturunan ini — bangsawan priayi dan ulama pesisir — membentuk Kartini sebagai pribadi yang hidup di antara dua dunia: keraton dan pesantren.
Kritik terhadap Hafalan Tanpa Makna
Justru dari lingkungan itulah kegelisahan Kartini terhadap agama bermula. Pada awal pemikirannya, ia bersikap kritis terhadap praktik keagamaan yang ia saksikan sehari-hari.
Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar pada November 1899, Kartini mempertanyakan tradisi pengajaran Al-Qur’an yang hanya mengutamakan hafalan aksara Arab tanpa sedikit pun penjelasan maknanya. Ia mengibaratkan praktik itu seperti menghafalkan kata-kata dari buku berbahasa asing yang tidak pernah diterjemahkan.
Kegelisahan itu berlanjut. Dalam surat kepada Ny. Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902, Kartini mengaku sempat berhenti membaca Al-Qur’an karena tak memahami satu pun artinya. Baginya, agama yang tak bisa dipahami hanyalah ritual yang kering — kepatuhan lahiriah tanpa cahaya di dalamnya.
Titik balik terjadi saat Kartini mengikuti pengajian di rumah pamannya, Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat. Di sanalah ia pertama kali menyimak Kiai Sholeh Darat — ulama sufi asal Semarang bernama lengkap Muhammad Shalih ibn Umar Al-Samarani — menafsirkan Surat Al-Fatihah dalam bahasa Jawa.
Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat yang selama ini ia lafalkan dalam gelap tiba-tiba menjadi terang. Seusai pengajian, ia menemui sang kiai dan mengajukan pertanyaan yang menggugah: bagaimana hukumnya seorang berilmu yang menyembunyikan ilmunya?
Dari pertemuan itulah lahir sebuah permintaan yang mengubah sejarah keilmuan Islam Nusantara.
Tafsir Berbahasa Jawa dan Ayat yang Mengubah Segalanya
Atas permintaan Kartini, Kiai Sholeh Darat menyusun terjemahan Al-Qur’an berbahasa Jawa beraksara Pegon, yang dikenal sebagai Faidh ar-Rahman. Kitab ini kelak menjadi terjemahan Al-Qur’an pertama dalam bahasa Jawa di dunia.
Kiai Sholeh Darat menghadiahkan kitab itu langsung kepada Kartini pada hari pernikahannya dengan R.M. Joyodiningrat, Bupati Rembang.
Melalui Faidh ar-Rahman itulah Kartini menemukan ayat yang kemudian menjadi inspirasi terbesarnya: Allah membimbing orang-orang beriman dari kegelapan menuju cahaya, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 257.
Kalimat minazh-zhulumaati ilan-nur itu ia terjemahkan ke dalam bahasa Belanda: Door Duisternis tot Licht. Armijn Pane kemudian mengalihbahasakannya menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” — judul yang melekat abadi pada kumpulan surat-suratnya, meski sedikit yang tahu bahwa kalimat itu sejatinya adalah penggalan ayat Al-Qur’an.
Sejak pertemuan dengan Kiai Sholeh Darat, pandangan Kartini terhadap peradaban Eropa bergeser tajam. Dalam surat kepada Ny. Abendanon tertanggal 27 Oktober 1902, ia secara terbuka meragukan kesempurnaan Barat yang selama ini ia kagumi.
Ia tidak lagi ingin menjadikan murid-muridnya sebagai orang Jawa yang kebarat-baratan. Agama, baginya, bukan sekadar aturan — melainkan jalan batin menuju kebenaran. Pengaruh sang kakak, Sosrokartono, yang dekat dengan ajaran tasawuf, turut memperkuat laku zuhud Kartini.
Ia mulai memandang iman bukan sebagai kepatuhan formal, melainkan sebagai wujud kepedulian sosial — dijalankan lewat tindakan nyata bagi kaum perempuan yang tertindas di sekitarnya.
Gelar Tertinggi: Hamba Allah
Puncak transformasi spiritual Kartini tertuang dalam surat kepada Ny. Abendanon tertanggal 1 Agustus 1903. Ia menanggalkan semua kebanggaan duniawi dan status kebangsawanannya.
Kartini menulis, “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah, Abdullah.”
Bagi seorang putri bangsawan yang tumbuh di lingkungan keraton, pernyataan itu bukan hal kecil. Ia adalah puncak dari sebuah perjalanan batin yang panjang — dari kegelisahan terhadap agama yang tak dipahami, menuju keyakinan yang berakar dalam dan penuh welas asih.
Kartini meninggal pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putranya, dalam usia 25 tahun. Ia tak sempat menuntaskan perjalanan spiritualnya, dan terjemahan Faidh ar-Rahman pun tak pernah selesai karena Kiai Sholeh Darat lebih dahulu wafat.
Namun jejaknya cukup untuk membuktikan bahwa di balik ikon emansipasi yang populer, ada seorang perempuan yang dengan sungguh-sungguh mencari — dan menemukan — cahaya dalam diam.***
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an Al-Karim (Terjemahan).
- Azra, Azyumardi. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana.
- Coté, Joost (penerjemah). 1992. Letters from Kartini: An Indonesian Feminist 1900–1904. Clayton: Monash Asia Institute.
- Kartini, R.A. 1911. Door Duisternis tot Licht: Gedachten over en voor het Javaansche Volk. Disusun oleh J.H. Abendanon. Amsterdam. (Terjemahan: Habis Gelap Terbitlah Terang, Armijn Pane, Balai Pustaka, 1938).
- Kartini, R.A. 1979. Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya. (Terjemahan: Sulastin Sutrisno). Jakarta: Djambatan.
- Kementerian Agama RI. 2021. “Kartini, Santriwati Kesayangan Mbah Sholeh Darat”, kemenag.go.id.
- Toer, Pramoedya Ananta (penyunting). 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Lentera Dipantara.
- Soeroto, Sitisoemandari. 1977. Kartini, Sebuah Biografi. Jakarta: Gunung Agung.
- Umam, Saiful. 2013. “God’s Mercy is Not Limited to Arabic Speakers”. Studia Islamika, vol. 20 (2).
- Zubair, M. Basyir. 2026. Tulisan Opini/Esai Analisis Kartini. Yogyakarta.




0 Komentar