Teheran menolak negosiasi dengan AS setelah 555 warga sipil, 200 anak-anak, tewas.
KOSONGSATU.ID—Iran memastikan tidak akan kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat setelah serangan gabungan AS dan Israel menewaskan ratusan warga sipil serta Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sikap tegas itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menyusul laporan yang menyebut Teheran masih membuka jalur komunikasi dengan Washington.
Larijani membantah kabar tersebut.
“Tidak akan ada negosiasi lagi dengan Amerika Serikat,” tegasnya melalui pernyataan resmi di media sosial X, merespons situasi pascaserangan Sabtu (28/2/2026).
Ia menuding Presiden AS Donald Trump telah menyeret kawasan ke dalam kekacauan.
“Dengan tindakan delusionalnya, dia telah mengubah slogan ‘America First’ menjadi ‘Israel First’ dan mengobarkan tentara-tentara Amerika hanya demi upaya Israel meraih kekuasaan,” ujarnya.
لن نتفاوض مع الولايات المتحدة https://t.co/cvEweU8ODj
— Ali Larijani | علی لاریجانی (@alilarijani_ir) March 2, 2026
555 Warga Sipil Tewas, 200 Anak Jadi Korban
Data korban sipil memperkeras sikap Teheran.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyebut sedikitnya 555 warga sipil tewas akibat serangan tersebut.
Dari jumlah itu, sekitar 200 korban merupakan anak-anak usia sekolah dasar.
“Dalam penyerangan ini, sampai dengan hari ini lebih dari 555 orang masyarakat sipil menjadi korban di mana sebagian besar di antara mereka berasal dari kaum anak-anak dan wanita, kurang lebih dari 200 anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar meninggal dunia,” kata Boroujerdi di Rumah Dinas Kedubes Iran, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Ia menegaskan banyak korban berasal dari kalangan nonmiliter.
Mereka, kata dia, tengah menjalankan ibadah puasa saat serangan terjadi.
“Berbagai golongan masyarakat nonmiliter sipil yang sedang merayakan dan sedang menjalankan ibadah puasa, dalam keadaan puasa, dijadikan korban,” ujarnya.
Boroujerdi menilai serangan tersebut menunjukkan AS dan Israel mengabaikan proses diplomasi yang masih berlangsung.
“Ini membuktikan sekali lagi bahwa mereka tidak patuh terhadap diplomasi, tidak patuh terhadap negosiasi. Pada saat kami sedang berada di meja perundingan, mereka melakukan penjarahan,” katanya.
Serangan di Tengah Perundingan Nuklir
Sebelum operasi militer dilancarkan, AS dan Iran telah memasuki putaran ketiga pembicaraan nuklir.
Belum ada kesepakatan tercapai ketika serangan justru terjadi.
Operasi militer pada Sabtu (28/2) dilaporkan menyasar fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam, lokasi peluncuran rudal balistik dan drone, serta sistem pertahanan udara Iran.
Sejumlah pejabat tinggi dilaporkan gugur, termasuk Khamenei dan Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh.
Pemerintah Iran mengonfirmasi wafatnya Khamenei dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Tak lama setelah itu, Iran membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Ledakan dan kepulan asap dilaporkan terjadi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Irak.
Situasi kawasan kian memanas.
Di tengah transisi kepemimpinan, nama Larijani disebut semakin dominan dalam pengambilan keputusan strategis di Teheran.
Namun satu sikap telah ditegaskan secara terbuka: pintu negosiasi dengan Washington kini tertutup. ***






Tinggalkan Balasan