Kampanye “Jan-Fada” atau “Jiwa yang Dikorbankan” meluncur di Iran lewat pesan massal. Jutaan warga mendaftar jadi relawan pejuang, menghadapi ancaman invasi darat AS-Israel.


KOSONGSATU.ID – Pemerintah Iran meluncurkan kampanye rekrutmen relawan berskala nasional bertajuk “Jan-Fada” — secara harfiah berarti “Jiwa yang Dikorbankan”. Kampanye ini disebarkan melalui pesan SMS massal kepada seluruh warga Iran, menyerukan kesiapan membela wilayah negara dari ancaman yang disebut sebagai “musuh Amerika-Zionis”.

“Bersamaan dengan ancaman musuh Amerika-Zionis terhadap pulau-pulau dan perbatasan Iran, kampanye nasional Jan-Fada telah diluncurkan untuk menyatakan kesiapan membela wilayah negara,” demikian bunyi pesan yang dikirimkan kepada warga, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal.

Dalam kurang dari tiga hari, lebih dari lima juta warga disebut telah mendaftarkan diri. Namun angka ini berasal dari klaim pihak pemerintah Iran dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Respons atas Ancaman Serangan Darat

Kampanye Jan-Fada muncul di tengah meningkatnya ancaman invasi darat oleh AS. Laporan Tasnim News, 26 Maret 2026, menyebutkan lebih dari satu juta pejuang telah dimobilisasi untuk pertempuran darat di garis depan selatan Iran — dengan gelombang pemuda membanjiri pusat-pusat Basij dan IRGC.

Komandan Pasukan Darat Iran Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi memperingatkan bahwa justru pihak musuh yang akan menanggung konsekuensi terbesar dari perang darat. “Perang darat akan lebih berbahaya dan merugikan bagi musuh,” tegasnya.

Namun, Human Rights Watch mencatat bahwa dalam kampanye rekrutmen yang berjalan bersamaan, IRGC juga merekrut anak-anak berusia semuda 12 tahun sebagai “pejuang pembela tanah air” — sebuah praktik yang dikecam sebagai pelanggaran serius hak anak dan kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.

Perang yang Membelah Iran

Mobilisasi massal ini terjadi di tengah konteks yang kompleks. Iran tidak hanya menghadapi tekanan militer dari luar, tetapi juga gelombang protes internal yang meletus sejak akhir 2025 akibat krisis ekonomi parah.