Inggris pimpin pertemuan virtual 40 negara untuk membuka blokade Selat Hormuz — tanpa AS. Komoditas lintas selat anjlok 94 persen, 20.000 pelaut terjebak.


KOSONGSATU.ID – Inggris menghimpun lebih dari 40 negara dalam pertemuan virtual pada Kamis (2/4/2026) untuk merumuskan langkah membuka kembali Selat Hormuz — jalur yang kini mati suri akibat perang AS-Israel melawan Iran. Amerika Serikat memilih tidak hadir.

Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper memimpin pertemuan dari meja panjang Kantor Luar Negeri di Westminster. Dalam pembukaan, ia memilih diksi yang tajam: “Kami melihat Iran membajak jalur pelayaran internasional untuk menyandera perekonomian global.”

Hadir di antaranya Prancis, Jerman, Italia, Kanada, Jepang, dan UEA. Tidak ada keputusan konkret yang dihasilkan — tapi semua sepakat satu hal: Iran tidak boleh menarik tarif dari kapal yang melintas.

Krisis Lebih Dalam dari Perkiraan

Data terbaru dari Lloyd’s List Intelligence memperlihatkan skala kerusakan yang sesungguhnya. Sejak 1 Maret 2026, lintasan kapal kargo di Selat Hormuz anjlok 94 persen dibanding masa damai. Hanya 225 lintasan tercatat — dan sebagian besar dikuasai tanker minyak Iran yang menghindari sanksi.

Sebanyak 20.000 pelaut di sekitar 200 kapal terjebak. Terdapat 23 serangan langsung terhadap kapal dagang di Teluk Persia sejak perang dimulai 28 Februari 2026, dengan 11 awak tewas.

Pertemuan Militer Minggu Depan

Cooper mengumumkan bahwa perencana militer dari sejumlah negara koalisi akan bertemu minggu depan untuk membahas skenario teknis — termasuk pembersihan ranjau dan skema pengamanan kapal niaga — namun hanya setelah perang berakhir. Tidak ada negara yang siap mengirim armadanya ke tengah konflik yang masih panas.

“Tidak ada yang mau mencoba membuka selat dengan paksa selagi pertempuran masih berlangsung,” kata jurnalis Al Jazeera Rory Challands dari London.

Macron: Militer Bukan Jawaban

Presiden Prancis Emmanuel Macron, berbicara saat kunjungan ke Korea Selatan, mempertegas penolakan opsi perang. “Opsi pembebasan Selat Hormuz melalui operasi militer tidak realistis,” tegasnya — merespons desakan Trump agar negara-negara lain “mengambil” selat itu sendiri.