Teheran terguncang di dini hari ketika bom-bom Israel mengguncang langit ibu kota Iran itu, kala Donald Trump mengeluarkan ‘ancaman’. Dunia menahan napas menanti babak selanjutnya dari perang bayangan yang kini menjadi terang-terangan.


KOSONGSATU.ID—Serangan udara intensif Israel menghantam ibu kota Iran pada Rabu pagi, sehari setelah Presiden AS Donald Trump menuntut “penyerahan tanpa syarat.”

Saat Amerika Serikat mengirimkan pesawat tempur ke Timur Tengah, Trump melontarkan sejumlah pernyataan soal konflik tersebut, termasuk peringatan kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bahwa AS tahu di mana dia bersembunyi, meski ia menambahkan bahwa belum ada rencana untuk membunuhnya — “setidaknya untuk saat ini.”

Pernyataan Trump ini menimbulkan kebingungan mengenai peran AS dalam konflik, sementara warga Teheran mulai meninggalkan rumah mereka di hari keenam kampanye udara Israel yang menyasar program militer dan nuklir Iran.

Israel menyatakan serangan besar-besaran ini diperlukan untuk mencegah Iran semakin dekat membangun senjata nuklir. Serangan itu telah menewaskan sedikitnya 224 orang di Iran.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan sekitar 400 rudal dan ratusan drone ke wilayah Israel. Hingga kini, 24 orang dilaporkan tewas di Israel.

Situasi Teheran yang dibombardir Israel. | Screenshoot AP News

Serangan Memuncak saat Israel Juga Bertempur di Gaza

Konflik meletus saat Israel juga tengah melakukan operasi militer di Jalur Gaza, di mana hampir setiap hari terjadi penembakan di dekat titik distribusi bantuan pangan bagi warga Palestina yang putus asa.

Sekitar pukul 05.00 pagi waktu setempat, ledakan besar terdengar di Teheran, menyusul beberapa ledakan lain di kegelapan dini hari. Pihak berwenang Iran tidak memberikan pernyataan resmi, sesuatu yang makin sering terjadi sejak serangan udara Israel dimulai pada Jumat.

Salah satu serangan tampaknya menargetkan distrik timur Teheran, Hakimiyeh, tempat akademi milik Garda Revolusioner berada. Israel sebelumnya telah memperingatkan akan menyerang wilayah selatan Bandara Internasional Mehrabad yang padat penduduk dan terdapat instalasi militer, pabrik farmasi, serta industri lainnya.

Israel mengklaim telah membunuh Jenderal Ali Shadmani, yang disebut sebagai komandan militer tertinggi yang tersisa di Iran, dalam serangan di Teheran. Shadmani sebelumnya tidak banyak dikenal hingga ditunjuk minggu lalu sebagai Kepala Markas Pusat Khatam al-Anbiya setelah pendahulunya, Jenderal Gholam Ali Rashid, tewas akibat serangan Israel.

Serangan pertama Israel ke Iran pada Jumat pekan 13 Juni 2025. | Istimewa

Trump: “Kami Tidak Ingin Gencatan Senjata”

Trump meninggalkan KTT G7 di Kanada lebih awal untuk menangani konflik ini, dan kepada wartawan ia mengatakan, “Saya tidak sedang membicarakan gencatan senjata. Kami menginginkan sesuatu yang lebih dari itu.”

Menurutnya, AS ingin melihat “akhir yang nyata” dari konflik, yang bisa mencakup Iran menyerah sepenuhnya. “Saya tidak dalam suasana hati untuk bernegosiasi,” katanya, meski ia juga membuka opsi diplomasi dan mengatakan Wakil Presiden JD Vance serta utusan khusus Steve Witkoff bisa dikirim untuk berdialog dengan Iran.

Sementara itu, AS menggeser pesawat militer dan kapal perang ke sekitar Timur Tengah untuk melindungi Israel dan menghadapi ancaman Iran terhadap instalasi militer AS. Citra satelit pada Rabu menunjukkan tidak ada kapal yang berlabuh di markas Armada ke-5 AL AS di Bahrain — penyebaran ini lazim dilakukan untuk keamanan.

Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut telah berbicara melalui telepon pada Selasa, menurut pejabat Gedung Putih yang meminta anonimitas.

Iran: Serangan Balasan Belum Berakhir

Iran belum merespons langsung pernyataan Trump, tapi petinggi militernya berjanji Israel akan menerima serangan lanjutan.

“Operasi yang telah dilakukan sejauh ini hanya bersifat peringatan dan pencegahan,” kata Jenderal Abdul Rahim Mousavi, Panglima Angkatan Darat Iran, dalam sebuah video. “Operasi hukuman akan segera dilakukan.”

Militer Israel memperingatkan warga agar tetap dekat dengan tempat perlindungan saat Iran meluncurkan rudal baru pada Rabu. Namun sebagian besar berhasil dicegat dan belum ada laporan korban. Sirene terdengar di wilayah selatan Israel, termasuk di Dimona — lokasi fasilitas nuklir rahasia Israel.

Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan bahwa Kedutaan Besar AS di Yerusalem tetap ditutup hingga Jumat.

Rudal Iran menghujani Tel Aviv pada Senin, 16 Juni 2025. | Screenshoot ABC News

Kehidupan Terhenti di Teheran

Trump memperingatkan melalui media sosial bahwa “semua orang harus segera evakuasi dari Teheran,” menyuarakan seruan militer Israel yang meminta sekitar 330.000 warga di pusat kota untuk meninggalkan daerah itu.

Teheran, dengan populasi sekitar 10 juta jiwa — setara dengan jumlah penduduk Israel — mulai sepi sejak konflik meletus. Toko-toko tutup, termasuk Grand Bazaar yang hanya tutup saat krisis besar seperti protes 2022 dan pandemi COVID-19. Jalan-jalan menuju barat Teheran mengalami kemacetan parah.

Iran Tutup Akses ke Dunia Luar

Otoritas Iran tampak membatasi akses publik ke dunia luar. Layanan telepon dan internet terganggu, dan telepon rumah tidak bisa melakukan atau menerima panggilan internasional. NetBlocks melaporkan adanya penurunan signifikan lalu lintas internet.

Komando Keamanan Siber Iran mengakui pembatasan tersebut, menyatakan langkah itu bertujuan menghentikan “musuh mengeksploitasi infrastruktur untuk operasi siber dan militer.”

Beberapa situs internasional diblokir, sementara situs lokal tetap berjalan — menandakan bahwa Iran mengaktifkan “halal net,” internet versi lokal yang dikendalikan negara. TV pemerintah juga menyerukan agar warga menghapus aplikasi WhatsApp, mengklaim tanpa bukti bahwa aplikasi itu mengirim data pengguna ke Israel.

Pihak WhatsApp menanggapi dengan kekhawatiran bahwa “laporan palsu ini akan dijadikan alasan untuk memblokir layanan kami saat orang sangat membutuhkannya.”

Situs Nuklir Iran Kembali Rusak

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa serangan Israel terhadap fasilitas pengayaan Natanz berdampak langsung pada instalasi bawah tanah. Citra satelit usai serangan Jumat menunjukkan kerusakan pada ruang pengayaan bawah tanah.

Sebelumnya, IAEA juga melaporkan bahwa Israel telah menghancurkan ruang pengayaan di atas tanah dan memutus pasokan listrik ke fasilitas itu. Mayoritas aktivitas pengayaan Iran berlangsung di bawah tanah untuk perlindungan.

Israel mengklaim serangan ke Natanz telah menghambat program nuklir Iran, tapi belum mampu menjangkau fasilitas Fordo yang tersembunyi di dalam gunung. Untuk menghantam Fordo, dibutuhkan pembom siluman B-2 milik AS dengan bom penghancur bunker GBU-57 berbobot 14.000 kilogram.***