Mengapa KH Wahid Hasyim pernah mengusulkan Mohammad Hatta sebagai Ketua PBNU pada 1944? Jejaknya mengarah pada kesamaan visi anti-penjajah yang melampaui batas kelompok.

KOSONGSATU.ID — Sejarah Nahdlatul Ulama pernah menyimpan satu fragmen yang tak biasa. Pada 1944, ketika PBNU mencari pengganti KH Machfudz Shiddiq yang wafat, KH Wahid Hasyim justru mengajukan nama dari luar lingkar ulama pesantren: Mohammad Hatta.

Usulan itu mengejutkan banyak pihak. Hatta dikenal sebagai tokoh nasionalis, pemikir ekonomi, dan figur penting dalam gerakan kemerdekaan. Namun bagi Kiai Wahid, jarak identitas itu bukan penghalang. Yang ia lihat adalah integritas, keluasan pikiran, dan keberpihakan Hatta pada perjuangan bangsa.

Mengutip Laduni, Kiai Wahid disebut menemui langsung Hatta di Jakarta untuk menyampaikan kepercayaan para kiai. Hatta menyambut tawaran itu dengan hormat, tetapi belum dapat menerimanya.

Saat itu, situasi politik berada dalam tekanan pendudukan Jepang. Hatta sedang menghadapi berbagai urusan kebangsaan, termasuk tekanan terhadap organisasi Islam dan persiapan menuju kemerdekaan. Pada akhirnya, posisi Ketua Tanfidziyah PBNU kemudian diamanahkan kepada Kiai Masjkoer.

Jejak Pemikiran Anti-Penjajah

Pertanyaan yang tertinggal dari peristiwa itu sederhana, tetapi penting: mengapa Kiai Wahid Hasyim begitu percaya kepada Hatta untuk memimpin organisasi ulama sebesar NU?

Peneliti sejarah Ahmad Baso menelusuri jawabannya pada jejak pemikiran Hatta. Dalam catatannya, Baso menyebut tulisan Hatta di Gedenkboek Indonesische Vereeniging pada Februari 1924 sebagai salah satu kunci yang membuat Kiai Wahid menaruh hormat.

Dalam tulisan itu, Hatta disebut mengingatkan umat Islam Indonesia agar tidak jatuh dalam posisi seperti sebagian kelompok muslim di negeri lain yang justru membantu imperialisme Inggris dalam pencaplokan wilayah Arab dan Irak.

Bagi Kiai Wahid, sikap itu penting. Hatta tidak memandang Islam sekadar sebagai identitas sosial, tetapi sebagai kekuatan moral yang harus berdiri bersama perjuangan rakyat tertindas. Di titik inilah nasionalisme Hatta bertemu dengan napas keulamaan NU.