Klaim Komunitas Sound: “Hanya Kumpul-Kumpul”

Di sisi lain, salah satu pemilik persewaan sound, Aprelia Production, mengklaim bahwa kehadiran belasan truk tersebut murni merupakan inisiatif komunitas. Melalui pernyataan resminya pada Senin (23/02), mereka menyebut tidak ada pihak yang menyewa peralatan tersebut untuk SOTR.

“Ini murni kumpul-kumpul spontan komunitas sound Jombang, tidak ada yang menyewa,” klaimnya. Namun, skala massa yang mencapai ribuan orang menunjukkan adanya koordinasi intensif sebelum aksi dilakukan.

Benturan Budaya di Ploso

Insiden ini menjadi paradoks di wilayah Ploso. Sebagai daerah yang memiliki akar sejarah kuat—termasuk keterkaitannya dengan Thoriqoh Shiddiqiyyah dan riset sejarah kelahiran Bung Karno—Ploso biasanya dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius dan etika.

Munculnya budaya sound horeg yang identik dengan hura-hura di tengah tradisi sahur menciptakan gesekan sosial yang nyata. Kini, publik Jombang menunggu langkah konkret dari Polres Jombang untuk menertibkan fenomena SOTR yang kian melenceng dari esensi ibadah Ramadan.

Fenomena ini menunjukkan perlunya regulasi yang lebih ketat terkait penggunaan perangkat audio berkekuatan besar di ruang publik, terutama saat jam istirahat warga, demi menjaga kondusivitas wilayah Jombang sebagai barometer kota religi di Jawa Timur.***