Uwi ungu disebut berpotensi jadi bioetanol tanpa ganggu pangan.
KOSONGSATU.ID—Transisi energi menuju bahan bakar nabati (BBN) di Indonesia menghadapi dilema lama: konflik antara kebutuhan pangan dan bahan bakar. Ketergantungan pada tebu, jagung, dan singkong memicu kekhawatiran soal ketahanan pangan nasional.
Di tengah kebuntuan itu, sejumlah riset internasional dan akademik menyoroti alternatif yang selama ini terabaikan: Dioscorea alata, atau uwi ungu.
Kandungan Pati Tinggi
Data penelusuran hingga Maret 2026 menunjukkan uwi ungu memiliki kandungan pati sekitar 86,12 persen. Komposisinya terdiri atas 17,59 persen amilosa dan 68,60 persen amilopektin.
Kandungan tersebut menjadikannya substrat ideal untuk fermentasi alkohol. Uji laboratorium terhadap limbah kulit uwi mencatat konsentrasi bioetanol 5–11 persen.
Fermentasi optimal tercapai dalam 48–72 jam pada suhu 35 derajat Celsius. Hasil ini menunjukkan potensi teknis yang layak untuk dikembangkan lebih lanjut.
Riset dari Research and Development Unit for Agricultural Materials and Bio-energy Thailand yang dipublikasikan di Philippine Journal of Science pada 2024/2025 melaporkan produktivitas etanol 32,31–43,66 gram per liter.
Metode yang digunakan adalah hidrolisis dan fermentasi terpisah atau Separate Hydrolysis and Fermentation (SHF). Angka ini memperkuat posisi Dioscorea spp. sebagai kandidat bahan baku bioenergi.
Mengurai Dilema Food vs Fuel
Isu “food vs fuel” menjadi tantangan utama pengembangan bioetanol berbasis tanaman pangan.
Wuryantoro dan tim peneliti bioenergi dari Universitas Mataram dalam publikasi di Jordan Journal of Biological Sciences (September 2021) menyebut kelompok umbi uwi memiliki potensi besar.
“Hanya sekitar 45 persen tanaman umbi ini yang dikonsumsi sebagai makanan, sisanya sangat menjanjikan untuk bahan baku industri,” tulis Wuryantoro dalam artikelnya.
Pandangan serupa disampaikan Ninlawan Chaitanoo dari Thailand. Ia menilai diversifikasi bahan baku penting untuk mengurangi ketergantungan pada tanaman bernilai ekonomi tinggi.





Tinggalkan Balasan