Selama 34 tahun, kekayaan RI hilang bukan karena dirampok—tapi karena kertas. Prabowo akhirnya buka angkanya di DPR.
KOSONGSATU.ID — Indonesia penghasil batu bara terbesar di dunia. Eksportir kelapa sawit nomor satu. Kaya raya di atas kertas—tapi rakyatnya masih banyak yang miskin.
Pertanyaan itu akhirnya mendapat jawaban gamblang dari Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPR, Rabu (20/5/2026). Angkanya mengejutkan: sekitar USD908 miliar—setara Rp15.400 triliun—kekayaan negara disebut menguap selama 34 tahun, dari 1991 hingga 2024. Bukan dirampok secara kasar, tapi lewat selembar dokumen yang sengaja dipalsukan.
Modusnya Sederhana, Kerugiannya Raksasa
Istilah teknisnya adalah under invoicing. Cara kerjanya: perusahaan mengekspor 10.000 ton batu bara, tapi di dokumen resmi yang dilaporkan ke negara hanya 5.000 ton. Selisihnya? Masuk kantong sendiri, tak terkena pajak, tak tercatat sebagai devisa.
Prabowo menyebut angka ini bersumber dari data PBB—bukan temuan pemerintahannya sendiri. Anomalinya bisa dilacak dari perbedaan catatan: Indonesia melaporkan ekspor sekian juta ton, sementara negara tujuan mencatat impor yang masuk jauh lebih besar. Celah itulah yang selama puluhan tahun jadi lubang kebocoran.
Ada juga modus lain yang disebut transfer pricing: perusahaan ekspor menjual komoditasnya ke anak perusahaan milik sendiri di luar negeri—misalnya Singapura—dengan harga murah. Di sana, barang itu dijual ulang ke Amerika atau Eropa dengan harga pasar dunia. Selisih keuntungannya tidak pernah kembali ke Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan mengaku mengantongi nama 15 perusahaan sawit yang diduga terlibat praktik ini. Modusnya sama: jual murah ke afiliasi di Singapura, lalu jual mahal ke pasar global. Untung besar, tapi tak tercatat di Indonesia.
Solusi Prabowo: Ekspor Satu Pintu lewat BUMN
Sebagai respons, Prabowo mengumumkan kebijakan baru: ekspor komoditas strategis—batu bara, kelapa sawit, hingga ferro alloy—wajib dilakukan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, BUMN yang ditunjuk sebagai eksportir tunggal. Semua transaksi melewati satu pintu negara, sehingga nilai ekspor lebih sulit dimanipulasi.




Tinggalkan Balasan