Tradisi labuhan pun hadir bukan sekadar sebagai ritual buta, melainkan cerminan cara pandang sistemik masyarakat dalam melihat bumi sebagai satu kesatuan yang terus berinteraksi.
Menariknya, kacamata kosmologis Jawa ini sangat presisi dan sejalan dengan konsep interconnected geodynamics dalam geologi modern. Konsep sains ini menjelaskan bahwa pergerakan tektonik di satu titik pasti memicu perubahan di wilayah lain.
Secara esensial, masyarakat Jawa sudah memahami cara kerja bumi ini jauh sebelum akademisi Barat merumuskannya ke dalam jurnal-jurnal ilmiah.
Melawan Eksploitasi Lewat Etika Spiritual
Lebih jauh lagi, Bobbette menyoroti cara tradisi Jawa memperlakukan alam. Masyarakat tidak melihat gunung, laut, dan batuan sebagai benda mati yang siap dieksploitasi, melainkan sebagai entitas bernyawa yang memiliki jiwa dan kekuatan.
Perspektif ini menampar keserakahan industri modern. Di tengah ancaman krisis iklim global dan pengerukan sumber daya yang masif, cara pandang spiritual Jawa menawarkan jalan keluar berupa etika ekologi yang baru.
”Masyarakat dalam tradisi Jawa tidak berambisi menguasai alam, mereka memilih untuk berdialog dengannya,” tegas Bobbette.
Percakapan kritis ini membuka mata kita bahwa Pulau Jawa bukan sekadar hamparan ruang geografis, melainkan pusat produksi pengetahuan dunia. Di sanalah sains, spiritualitas, dan politik melebur untuk memandu manusia meraba denyut nadi bumi.
Sudah saatnya kita berhenti meremehkan kearifan lokal. Tradisi Jawa telah lebih dahulu mempraktikkan prinsip keseimbangan ekologis yang hari ini dunia global teriakkan. Masa depan ilmu kebumian yang berkelanjutan wajib merangkul kembali dimensi spiritual ini.
Sains harus kembali memiliki “jiwa” agar manusia bisa berhenti merusak dan mulai hidup selaras dengan bumi.*




Tinggalkan Balasan