Di Desa Sade, Lombok Tengah, Inaq Lip merawat lantai bale tani dengan campuran tanah dan kotoran sapi. Tradisi belulut menjaga rumah adat Sasak tetap padat, sekaligus menyimpan perdebatan antara warisan dan kesehatan.

KOSONGSATU.ID – Ujung jari Inaq Lip menyapu permukaan lantai tanah yang kecokelatan, pelan-pelan menutup retakan kecil di dalam bale tani miliknya. Di bawah matahari Lombok yang terik, perempuan 65 tahun itu mengaduk tanah liat, air, dan kotoran sapi segar—bahan yang bagi banyak orang mungkin membuat mereka mundur selangkah dari ambang pintu.

Bagi Inaq Lip, campuran itu bukan sesuatu yang jorok. Ia adalah cara merawat rumah.

Di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, rumah-rumah beratap alang-alang dan berdinding anyaman bambu berdiri rapat di lereng tanah. Jalannya sempit, sebagian berbatu, dan di antara bale-bale tani itu tersimpan satu kebiasaan yang bertahan dari generasi ke generasi: belulut, tradisi melulur lantai dengan campuran kotoran ternak.

“Kan, biar enggak berdebu, biar kuat tanahnya, biar enggak retak-retak,” kata Inaq Lip saat ditemui KOSONGSATU.ID, Jumat, 26 Juni 2026. “Kalau ada retak-retak, dipel lagi, digosok. Namanya belulut. Itu memperkuat lantai rumah kita.”

Tangannya bergerak tanpa sarung tangan. Campuran itu ia ratakan ke sudut-sudut lantai, seperti seseorang mengusap plester pada dinding yang retak. Tidak ada alat modern, tidak pula semen, keramik, atau cairan pembersih dalam botol plastik. Yang ada hanya bahan-bahan dari sekitar rumah dan pengetahuan yang diwariskan melalui kebiasaan.

Lantai itu, setelah kering, tampak padat dan bersih. Kaki yang menginjaknya akan merasakan suhu lebih sejuk dibanding lantai semen yang menyimpan panas siang hari.

Bagi pengunjung yang baru pertama datang, satu pertanyaan hampir selalu muncul: apakah rumah itu berbau?

Inaq Lip terkekeh ketika mendengarnya. Ia lalu menjawab dengan perumpamaan yang sederhana, sekaligus membuat orang di sekelilingnya tertawa.

“Enggak bau, karena kan baru keluar dari rice cooker-nya,” ujarnya.

Yang dimaksud Inaq Lip adalah kotoran sapi yang masih segar. Menurut pengalaman warga, bahan itu lebih mudah diratakan dan tidak meninggalkan aroma menyengat setelah lapisan lantai mengering. Sesudahnya, permukaan cukup disapu menggunakan sapu lidi padi.

Merawat Bale Tani dari Lantai

Di banyak rumah tradisional Sasak, penggunaan tanah liat dan kotoran ternak bukan sekadar pekerjaan domestik. Ia menjadi bagian dari cara warga menjaga bale tani—rumah tinggal tradisional yang dibangun dengan bahan-bahan alami, dari atap alang-alang, tiang kayu, bambu, hingga lantai tanah.

Literatur tentang rumah tradisional Sasak juga mencatat penggunaan plesteran kotoran sapi atau kerbau pada lantai rumah tanah. Dalam praktik warga, bahan itu diyakini membantu menekan debu, menghaluskan permukaan, serta menjaga lantai agar tidak mudah retak. Namun, keyakinan tersebut tumbuh dari pengalaman turun-temurun dan tidak bisa serta-merta diperlakukan sebagai klaim medis atau sanitasi yang telah teruji secara menyeluruh.

Tradisi ini, justru, menghadirkan pertemuan yang rumit antara kearifan lokal dan pertanyaan kesehatan modern.

Jurnalis Kosongsatu.id berpose di pintu masuk Desa Adat Sade, yang berlokasi di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. – Dok. Pribadi

Ketika Tradisi Bertemu Pertanyaan Kesehatan

Sebuah penelitian yang menelaah praktik mengepel dengan kotoran sapi di Desa Sade pada 2025 mengingatkan adanya kemungkinan risiko infeksi saluran pernapasan akut, terutama bagi anak-anak, apabila material mengandung bakteri patogen dan partikel dari lantai terpapar ke udara. Temuan itu tidak serta-merta membatalkan tradisi belulut, tetapi membuka kebutuhan untuk melihatnya dengan lebih hati-hati: sebagai pengetahuan budaya yang perlu dirawat, sekaligus praktik yang perlu dipahami risikonya.

Di titik itulah, belulut tidak bisa hanya dipandang sebagai atraksi wisata.

Ia adalah kerja sehari-hari. Kerja yang dilakukan perempuan-perempuan Sasak untuk membuat rumah tetap layak dihuni, ketika lantai retak, ketika debu kembali naik, ketika musim kering membuat tanah menjadi rapuh. Dalam satu sapuan tangan, ada perawatan rumah, pengetahuan bahan, dan ingatan keluarga yang tidak pernah ditulis dalam buku pelajaran.

Kampung yang Tidak Sekadar Dipotret

Desa Sade selama ini dikenal sebagai salah satu wajah budaya Sasak di Lombok. Para wisatawan datang untuk melihat tenun, lumbung padi, bale tani, dan deretan atap alang-alang yang menjadi penanda kampung. Namun, di balik foto-foto itu, ada pekerjaan sunyi yang membuat semua bangunan tersebut tetap bertahan.

Belulut menjadi salah satunya.

Tradisi itu juga memperlihatkan cara hidup yang nyaris tanpa sisa. Tanah berasal dari sekitar kampung. Air digunakan secukupnya. Kotoran ternak, yang dalam banyak tempat dianggap limbah, dipakai kembali sebagai bahan perawatan lantai. Tidak ada kemasan sekali pakai, tidak ada bahan bangunan pabrikan yang harus didatangkan dari jauh.

Tetapi kehidupan tradisional tidak selalu berarti kehidupan yang bebas persoalan. Penggunaan kotoran ternak di ruang hunian tetap membutuhkan perhatian pada kebersihan, ventilasi, kondisi penghuni, serta kemungkinan paparan bakteri. Menjaga warisan tidak harus berarti menutup mata terhadap pengetahuan kesehatan yang berkembang.

Lantai yang Tak Boleh Retak

Bagi Inaq Lip, pertimbangan itu mungkin terdengar jauh dari rutinitas pagi yang ia jalani. Yang ia tahu, lantai rumah harus dirawat agar tidak retak. Debu harus ditekan. Bale tani harus tetap berdiri seperti rumah yang diwariskan kepadanya.

Ketika campuran tanah dan kotoran sapi itu mengering, warna lantai kembali rata. Inaq Lip kemudian mengambil sapu lidi, membersihkan sisa-sisa yang menempel, dan rumah itu kembali siap menerima orang-orang yang datang.

Di Desa Sade, warisan tidak hanya dipajang di depan kamera. Ia diusap dengan tangan, dirawat dari lantai, dan dijaga agar tidak retak.***