Di Desa Sukamaju, sebuah keluarga kecil mendapat kejutan besar: rumah permanen–lebih spesifiknya lagi ‘rumah pintar’–dari orang-orang yang tak mereka kenal sebelumnya. Orang-orang yang datang membawa jiwa OPSHID.
KOSONGSATU.ID—Pada suatu pagi beberapa pekan lalu, di Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pasangan Sumardi dan Sofiah berdiam dalam rumah mereka yang ‘ala kadarnya’. Rumah yang berdiri dalam sunyi desa.
Dan pasangan itu tak menyangka bakal terjadi perubahan besar di hidup mereka.
Tak ada tanda apa pun sebelumnya yang mengisyaratkan kehidupan mereka bakal mengalami ‘perubahan besar’. Tetiba saja sebuah rumah baru—bukan sekadar bangunan, tapi simbol harapan—akan dibangun untuk mereka.
Dibangun tanpa proposal oleh ‘orang-orang tak dikenal’ yang datang begitu saja.
“Saya juga enggak tahu. Tiba-tiba ada yang datang ke rumah, terus ngomong mau kasih rumah,” kenang Sofiah (50), Sabtu (21/6).
Dia bercerita dengan suara pelan, seakan masih tak percaya.
Dia mengenang hari ketika orang-orang yang membawa jiwa Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) itu datang bagaikan mimpi yang terlalu nyata untuk diperdebatkan.
Bagi Sofiah dan keluarganya, OPSHID adalah nama yang asing. Orang-orangnya tak ia kenal. Tiwik Apriyani (18), putri Sofiah yang penasaran, pun mencoba mencari tahu tentang siapa orang-orang asing itu melalui media sosial. Hingga ketika membuka Instagram, bertemulah dia dengan akun OPSHID Media.
Dari akun itu dia mendapat banyak informasi tentang orang-orang itu. Keraguan pelan-pelan berubah jadi keyakinan. “Lihat Instagram-nya, terus saya percaya,” kata Tiwik.

Kepercayaan itu pun mengantarkan keluarga Sofiah—yang hidup dengan penghasilan serabutan dari suami dan menantu yang mengandalkan borongan panen cengkeh Rp5.000 per kilo—pada keputusan besar: rumah lama dibongkar. Dihancurkan untuk digantikan dengan rumah pintar permanen bernilai ratusan juta: Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS).
“Saya percaya karena semua surat-suratnya jelas,” ujar Sofiah.
Namun, tetap saja awalnya rasa khawatir sempat datang juga. Apalagi ketika para relawan harus kembali pulang ke daerah masing-masing, pergi dari Desa Sukamaju, sebelum pembangunan dimulai. “Tapi saya yakin mereka akan datang lagi,” kata Sofiah.
Dan benar, jiwa-jiwa OPSHID itu kembali lagi untuk menepati janji.
Di rumah yang dibangun ulang itu, Sofiah tinggal bersama enam anggota keluarga lainnya: suami, dua anak, satu menantu, dan seorang cucu. Semua sudah tak lagi sekolah.
Hidup mereka sungguh miris. Bahkan ijazah SMA Tiwik, putri Sofiah, belum bisa diambil karena ada tunggakan biaya.
“Mudah-mudahan Bapak Aing (Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi—red) dengar ini, supaya ijazah anak saya bisa keluar,” ucapnya, dengan nada setengah berdoa.
Bagi Sofiah, bantuan Rumah Pintar dari OPSHID bukan hanya soal papan. Ia melihatnya sebagai bentuk kasih sayang yang tak biasa. Sebab, menurut dia, belum ada pejabat desa atau aparat pemerintah yang lebih dulu memberitahu soal ini.
Apalagi untuk mendapatkanya tak ada seleksi. Tak perlu birokrasi. Hanya tawaran langsung dari ‘orang-orang asing’ yang membawa niat tulus dan semangat gotong royong.
Setelah pembangunan dimulai, Sofiah menyaksikan langsung kerja keras para relawan. Tanpa upah, tanpa pamrih, mereka menggali fondasi dan menata batu.
Di dapur umum, mereka masak sendiri. Mereka datang satu per satu dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti utusan yang membawa pesan: bahwa bantuan tak harus datang dari yang berkuasa.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada (Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah) Bapak Kiai Mochammad Muhtar Mu’thi dan (Pimpinan OPSHID FKYME) Bapak Mochammad Subchi Azal Tsani. Saya enggak pernah nyangka. Ini seperti mimpi,” Sofiah terharu.
Putrinya yang mendampingi, juga menyampaikan rasa yang sama. “Terima kasih banyak. Kami enggak kenal, tapi diberi kepercayaan seperti ini.”
Sukamaju mungkin terdengar seperti desa kecil yang terpinggir. Tapi dari sana, kini tumbuh satu bukti bahwa solidaritas bisa melampaui batas wilayah dan garis pengenal.
Rumah mereka belum selesai, tapi pondasi kepercayaan sudah tertanam dalam. Rumah itu mungkin ‘datang dari langit’ yang diantar langsung oleh OPSHID.***




Tinggalkan Balasan