Sosiolog UGM menyebut lilitan lakban, kondisi kamar, dan hasil otopsi sebagai kunci mengungkap kematian diplomat Arya Pangayunan. Polisi kini menangani kasus bersama Mabes Polri.
KOSONGSATU.ID — Sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada, Soeprapto, meminta polisi fokus pada barang bukti untuk mengungkap penyebab kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan.
“Beberapa alat bukti bisa menjadi petunjuk kuat, meski polisi belum menyimpulkan penyebab kematiannya,” kata Soeprapto, Kamis, 10 Juli 2025.
Soeprapto menyebut enam elemen penting untuk ditelusuri:
- Lilitan lakban di kepala korban
Posisi dan kekuatan lilitan bisa menunjukkan apakah tindakan itu dilakukan sendiri atau oleh orang lain. - Pintu kamar yang terkunci dari dalam
Polisi perlu mengkaji kemungkinan jalur keluar alternatif yang bisa digunakan pelaku. - Tidak ada barang yang hilang
Ia menilai pelaku bisa sengaja tidak mengambil barang untuk menciptakan kesan kematian alami. - Akses keluar masuk terbatas dan rekaman CCTV bersih
Hal ini bisa mengindikasikan tekanan mental atau gangguan kesehatan sebagai penyebab kematian. - Pernyataan korban soal ingin pindah kos
Soeprapto menyarankan penyidik menyelidiki alasan korban merasa tidak nyaman. - Hasil otopsi dan rekam jejak digital
Pemeriksaan medis bisa mengonfirmasi penyumbatan saluran napas, sementara digital footprint dapat membuka potensi motif pribadi atau tekanan eksternal.
“Kalau benar bukan dibunuh, bisa jadi ada gangguan psikologis yang disembunyikan,” ujar Soeprapto.
Polda Metro Jaya kini menangani kasus ini dan mendapat dukungan dari tim penyidik Mabes Polri. Polisi masih menunggu hasil otopsi dan analisis forensik lainnya sebelum menyimpulkan penyebab kematian.*




Tinggalkan Balasan