Identitas di jaringan semacam itu dibentuk oleh jaringan dagang dan kesetiaan berlapis, bukan oleh paspor tunggal seperti yang dikenal negara modern.

Pola ini hidup lebih lama dari kerajaan yang melahirkannya. Masyarakat Minangkabau mewariskan falsafah “dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang”—di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung—sebagai pedoman hidup para perantau yang membangun kehidupan baru tanpa memutus akar kampung halaman.

Pelaut Bugis-Makassar mempraktikkan hal serupa lewat jalur niaga yang terentang dari Kalimantan hingga Semenanjung Malaya, membangun komunitas dagang yang tetap terikat kampung asal sekaligus berakar di tanah rantau.

Romantisme Tanah Leluhur Berhadapan dengan Realitas Talenta

Penolakan terhadap dwi kewarganegaraan biasanya bersandar pada kekhawatiran soal kedaulatan dan loyalitas ganda—kecemasan yang sah dan bukan tanpa dasar sejarah kolonial. Namun preseden Nusantara menunjukkan bahwa keterbukaan jaringan justru pernah menjadi sumber kekuatan, bukan ancaman, selama tata kelolanya jelas.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal boleh atau tidak boleh, melainkan soal siapa yang berhak mendapat keistimewaan itu, dan lewat mekanisme apa negara memastikan keterbukaan ini tidak berubah menjadi celah baru.***

Daftar Rujukan:

  • Wolters, O.W. Early Indonesian Commerce: A Study of the Origins of Srivijaya. Ithaca: Cornell University Press, 1967. — dasar akademik utama soal Sriwijaya sebagai kekuatan niaga maritim, bukan kekuatan teritorial.
  • Muljana, Slamet. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS, cetakan ulang 2005 (edisi asli 1965). — sumber konsep mandala dan jaringan pengaruh Majapahit di luar kekuasaan langsung istana.
  • Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya (3 jilid, khususnya Jilid 2: Jaringan Asia). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996. — memetakan Nusantara sebagai simpul jaringan niaga dan budaya lintas bangsa sejak era klasik.
  • Naim, Mochtar. Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1979. — rujukan klasik falsafah dan pola migrasi perantau Minangkabau.
  • Pelras, Christian. The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers, 1996 (edisi Indonesia: Manusia Bugis, Jakarta: Nalar bekerja sama dengan Forum Jakarta-Paris, 2006). — etnografi rujukan utama pola migrasi dan identitas dagang pelaut Bugis-Makassar.