Gandum, Sebuah Ketergantungan yang Dibenarkan?

Indonesia sedang menghadapi paradoks besar: memilih ketergantungan yang membuat kita aman secara jangka pendek, atau memilih jalan berdikari yang sulit, mahal, dan tak instan hasilnya.

Sama seperti buah simalakama: dimakan, ibu mati; tak dimakan, ayah mati.

Menyetop impor gandum tanpa kesiapan bisa menghancurkan industri dan memicu krisis pangan. Tapi terus mengimpor tanpa membangun kemandirian berarti menyerahkan kendali pangan ke tangan negara lain.

Di tengah dilema ini, pertanyaan mendasarnya bukan lagi “kenapa kita tidak menanam gandum?”, melainkan: sampai kapan kita rela bergantung pada yang tak bisa kita tanam sendiri?***