Indonesia terjebak simalakama gandum: tak bisa menanam sendiri, tapi terus bergantung pada impor yang kian dalam.Alternatif lokal belum siap menggantikan peran strategisnya.


KOSONGSATU.ID—Setiap pagi, jutaan orang Indonesia mengawali hari dengan roti tawar atau mi instan. Di kantor, kudapan berupa biskuit atau kue kering tak pernah absen. Semua itu memiliki satu benang merah: gandum.

Tapi, ironisnya, tak sebutir pun dari gandum itu ditanam di tanah kita sendiri.

Indonesia hidup di bawah bayang-bayang gandum. Di satu sisi, bahan pangan ini menopang industri, ekonomi, dan perut rakyat. Di sisi lain, ia menjerat kita dalam ketergantungan yang semakin dalam terhadap negara-negara produsen—terutama yang dimakelari Amerika Serikat (AS).

Inilah simalakama gandum: mau dimakan, kita ketergantungan. Tak dimakan, kita bisa kelaparan.

Gandum: Makanan Harian, tapi Bukan Tanaman Lokal

Indonesia tidak punya sejarah pertanian gandum. Bukan karena tak mau menanam, tapi karena tak bisa. Iklim tropis yang lembap, curah hujan tinggi, dan suhu panas membuat gandum sulit tumbuh.

Tanaman ini hanya cocok di wilayah subtropis atau sedang, seperti Australia, Amerika, atau Kanada.

Penelitian dari Balitbangtan (2007–2018) memang menunjukkan bahwa varietas gandum tropis bisa tumbuh di dataran tinggi seperti Lembang atau Wonosobo. Tapi produktivitasnya rendah—hanya 2–3 ton per hektare, jauh dari standar global yang bisa mencapai 6–8 ton.

Risiko gagal panen tinggi, dan biaya produksi tidak efisien.

Rekayasa genetika? Sudah dicoba. Tapi memodifikasi gen gandum agar tahan iklim panas dan lembap bukan perkara mudah. Butuh waktu panjang, dana besar, dan dukungan politik yang konsisten—semuanya belum kita miliki secara utuh.

Ketergantungan yang Tak Terelakkan

Karena tak bisa menanam, Indonesia memilih jalan pintas: impor. Dan hasilnya luar biasa.

Menurut OEC World (2023), Indonesia menjadi importir gandum terbesar ketiga di dunia, dengan nilai impor mencapai USD3,49 miliar dan volume lebih dari 10 juta ton per tahun. Industri makanan olahan seperti mi instan, roti, biskuit, dan sereal tak bisa hidup tanpa tepung terigu.

Bahkan sektor peternakan pun ikut bergantung. Sebagian pakan ternak kini mencampur gandum sebagai alternatif jagung. USDA mencatat bahwa pada musim 2024/25, sekitar 2,1 juta ton gandum diperkirakan akan diserap sektor pakan ternak Indonesia.

Kita bukan hanya mengimpor bahan pangan, tapi juga mengimpor cara hidup.

Bagaimana Jika Tak Lagi Mengimpor Gandum?

Apa jadinya jika Indonesia memutuskan berhenti mengimpor gandum? Jawabannya ternyata tak sederhana.

Tanpa impor gandum:

  • Industri pangan bisa kolaps: mi, roti, dan biskuit tak bisa diproduksi.
  • Harga makanan naik: substitusi lokal seperti tepung singkong atau sagu belum tersedia dalam jumlah dan mutu memadai.
  • PHK massal bisa terjadi: ribuan buruh di industri penggilingan, makanan olahan, dan logistik bisa terdampak.
  • Pola konsumsi masyarakat terguncang: mereka kehilangan sumber karbohidrat cepat saji yang sudah menjadi bagian hidup.

Herdiansyah Hamzah, peneliti dari Universitas Mulawarman, menyebutkan bahwa “ketergantungan pangan yang terlalu besar tanpa substitusi lokal adalah ancaman laten bagi ketahanan ekonomi nasional” (Tempo, 17 Juli 2025).

Perjanjian Dagang: Simalakama Baru

Pada Juli 2025, pemerintah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat untuk meningkatkan impor gandum dari negeri Paman Sam mulai 2026 hingga 2030. Sebagai imbalannya, Indonesia menurunkan tarif impor produk gandum dari 25% menjadi 19%.

Langkah ini dianggap strategis untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga dalam negeri. Tapi sekaligus memperdalam ketergantungan struktural terhadap negara asing. Dalam laporan S&P Global Commodity Insights (7 Juli 2025), pejabat Indonesia menyebut kesepakatan ini sebagai “komitmen jangka panjang untuk mengamankan pangan nasional.”

Tapi di sisi lain, para pengamat melihat ini sebagai bentuk pengorbanan kedaulatan pangan. Indonesia menukar bea masuk demi pasokan, tapi menunda peluang untuk berdikari.

Alternatif Lokal: Sekadar Tambal Sulam?

Upaya substitusi sebenarnya sudah ada. Tepung mocaf dari singkong mulai digunakan sebagian UMKM roti dan kue. Mi dari sagu juga diproduksi terbatas. Tapi, belum ada yang mampu menggantikan gandum secara utuh. Konsumen masih mencari rasa, tekstur, dan elastisitas khas gluten yang hanya bisa diberikan oleh gandum.

Produksi massal dan distribusi substitusi lokal pun masih terbatas. Belum ada dukungan besar-besaran dari negara untuk menjadikan singkong, sukun, atau sagu sebagai tulang punggung pangan alternatif.

Gandum, Sebuah Ketergantungan yang Dibenarkan?

Indonesia sedang menghadapi paradoks besar: memilih ketergantungan yang membuat kita aman secara jangka pendek, atau memilih jalan berdikari yang sulit, mahal, dan tak instan hasilnya.

Sama seperti buah simalakama: dimakan, ibu mati; tak dimakan, ayah mati.

Menyetop impor gandum tanpa kesiapan bisa menghancurkan industri dan memicu krisis pangan. Tapi terus mengimpor tanpa membangun kemandirian berarti menyerahkan kendali pangan ke tangan negara lain.

Di tengah dilema ini, pertanyaan mendasarnya bukan lagi “kenapa kita tidak menanam gandum?”, melainkan: sampai kapan kita rela bergantung pada yang tak bisa kita tanam sendiri?***