Usai pengibaran bendera, tentara merampas kamera Alex dan memusnahkan rol filmnya. Frans yang selamat segera mengubur hasil bidikannya di dalam sebuah kotak mentega di bawah tanah selama tiga hari agar terhindar dari penyitaan aparat Jepang.
Karya foto bersejarah tersebut baru terbit di harian Merdeka pada 20 Februari 1946 karena ketatnya sensor Jepang. Bersama Justus dan Frans Umbas, Mendur bersaudara kemudian mendirikan Indonesian Press Photo Service (IPPHOS).
Siasat Siaran dan Rekaman Susulan
Kabar kemerdekaan juga berhasil mengudara berkat kenekatan penyiar Radio Hoso Kanri Kyoku, Jusuf Ronodipuro. Ia menyiarkan berita proklamasi berbahasa Indonesia pada 17 Agustus 1945 pukul 19.00 WIB bersama rekannya, Suprapto.
Jusuf mengelabui Polisi Militer Jepang (Kenpetai) dengan memutar piringan hitam lagu-lagu merdu di pengeras suara. Sementara itu, teks proklamasi disiarkan secara sembunyi-sembunyi melalui studio siaran luar negeri di gedung yang sama.
Meskipun demikian, momen pembacaan naskah saat itu luput dari perekaman audio. Jusuf yang menjabat Kepala Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1958 akhirnya merayu Soekarno untuk merekam ulang suaranya demi kelengkapan sejarah negara.
Penelusuran kepingan dokumentasi tersebut masih terus berlanjut demi memperkaya perspektif rakyat Indonesia. ANRI meyakini sebagian arsip visual maupun teks masih menjadi koleksi pribadi para keturunan jurnalis atau tokoh pergerakan.
“Maka itu, proses penelusuran arsip ini terus dilakukan,” ujar Imam.***
Daftar Rujukan:
- Harian Kompas, edisi 16 Agustus 1975.
- Harian Kompas, edisi 19 Agustus 2019.
- Harian Kompas, edisi 25 Agustus 2020.
- JEO Kompas.com, 15 Agustus 2021.




Tinggalkan Balasan