Namun, ada garis tegas yang tidak boleh dilampaui: kontak fisik berlebihan dilarang, dan penyewa tidak boleh membawa talent ke tempat privat seperti hotel atau apartemen. Relasi ditempatkan sebagai transaksi profesional: kamu membayar, aku menemani. Setelah durasi selesai, hubungan berakhir, dan masing-masing kembali menjadi orang asing.
Model semacam ini memperlihatkan bagaimana “kedekatan” dapat dirapikan menjadi layanan—terukur, terjadwal, dan tak meninggalkan ruang abu-abu. Risiko emosional, jika muncul, menjadi tanggungan personal: baper bukan bagian dari paket.
Reaksi Warganet Indonesia: Antara Takjub dan Geleng Kepala
Fenomena ini ikut menyentuh percakapan publik Indonesia, terutama di media sosial. Respons warganet bergerak antara heran, menertawakan, hingga mengaitkan dengan kebiasaan konsumsi lokal.
“Mahal amat cuma buat status palsu. Mending uangnya buat beli seblak satu gerobak, kenyang dan bahagia,” tulis seorang warganet di X. Komentar lain menyodorkan spekulasi khas Indonesia: jika layanan serupa dibuka di Jakarta, apakah akan laku—atau justru ramai dengan skema cicilan.
Di balik kelakar itu, terselip pertanyaan yang lebih sunyi: mengapa kebutuhan paling sederhana—sekadar ditemani—bisa berubah menjadi komoditas bernilai jutaan rupiah? Jawabannya mungkin tidak tunggal. Ada budaya urban yang menuntut penampilan sosial tertentu, ada media sosial yang memoles narasi kebahagiaan menjadi etalase, dan ada kesepian yang tak lagi dianggap aib, melainkan masalah yang bisa dikelola dengan layanan.
Valentine, pada akhirnya, bukan hanya tentang cinta. Ia juga menjadi cermin: memperlihatkan siapa yang merayakan, siapa yang menghindar, dan siapa yang memilih menyewa sepotong kebersamaan—agar malam itu terasa sedikit lebih ringan.***



2 Komentar