Lupakan hustle culture, kini saatnya beralih ke soft living. Tren gaya hidup 2026 yang mengutamakan kesehatan mental di atas ambisi yang meletihkan.
KOSONGSATU.ID—Memasuki tahun 2026, tekanan pekerjaan dan kecepatan informasi digital tampaknya mulai mencapai titik jenuh bagi banyak orang. Jika tahun-tahun sebelumnya kita mengenal hustle culture yang memuja kesibukan tanpa henti, kini muncul gerakan tandingan yang kian populer: soft living.
Lantas, apa sebenarnya soft living itu? Secara sederhana, soft living adalah pendekatan hidup yang meminimalkan stres dengan menolak tekanan sosial untuk selalu tampil produktif setiap saat. Alih-alih mengejar karier hingga burnout, penganut gaya hidup ini lebih memilih menjalani hari dengan penuh kesadaran (mindfulness) dan kenyamanan emosional.
Bukan Sekadar Malas, Tapi Cerdas Mengelola Energi
Banyak netizen di media sosial mempertanyakan apakah soft living sama dengan malas. Faktanya, tren ini justru mengajarkan manajemen energi yang lebih cerdas. Sebagaimana dikutip dari laporan RRI, Sabtu (7/2/2026), penerapan soft living bukan berarti meninggalkan produktivitas, melainkan bekerja dengan cara yang lebih sadar dan sehat.



Tinggalkan Balasan