Pemikiran Sofis kembali dibahas seiring meningkatnya penggunaan retorika untuk membentuk opini publik.

KOSONGSATU.ID — Sejarah pemikiran kaum Sofis di Yunani kuno kembali mencuri perhatian di tengah maraknya perdebatan publik dan politik modern yang sarat permainan kata.

Dalam tradisi filsafat, kelompok Sofis dikenal mengutamakan kemampuan berbicara dan berdebat ketimbang pencarian kebenaran — gagasan yang kini banyak dikaitkan dengan dinamika komunikasi politik dan media di Indonesia.

Pada abad ke-5 SM, tokoh seperti Protagoras dari Abdera dan Gorgias dari Leontinoi tampil sebagai guru retorika di Athena. Protagoras menyatakan “Man is the measure of all things” dalam risalahnya sekitar 450 SM, menegaskan kebenaran bersifat relatif tergantung persepsi manusia.

Sementara itu, Gorgias memusatkan perhatian pada kekuatan kata dalam membentuk realitas, sebagaimana tergambar dalam dialog Gorgias karya Plato (±380 SM). Ia menilai pengajar tidak dapat dipersalahkan jika murid memakai retorika secara tidak bermoral.

Pandangan tersebut memicu kritik keras dari Plato dan Aristoteles. Dalam Phaedrus, Plato menilai retorika tanpa landasan kebenaran hanya menjadi “seni menipu”. Aristoteles kemudian membedakan dialektika sebagai pencarian kebenaran, sementara retorika digunakan untuk membujuk audiens.

Warisan Relativisme dan Dampaknya Kini

Stanford Encyclopedia of Philosophy (C.C.W. Taylor, 2020) menilai para Sofis sebagai pelopor relativisme moral dan epistemik. Mereka mengajarkan bahwa apa yang benar bagi satu orang belum tentu benar bagi orang lain. Karena kerap disalahgunakan dalam praktik politik, istilah “sofistik” pada era modern berkonotasi negatif sebagai argumen tampak logis tetapi menyesatkan.

Menurut Internet Encyclopedia of Philosophy (2023), retorika yang tidak diawasi oleh dialektika dapat bergeser menjadi alat memenangkan debat, bukan mencari kebenaran.

Relevansi dengan Retorika Politik Indonesia

Sejumlah akademisi menilai perkembangan komunikasi politik Indonesia menunjukkan kemiripan dengan praktik Sofistik. Peneliti komunikasi politik Universitas Negeri Jakarta, Ferry Yunanto, menyatakan manipulasi bahasa mudah ditemukan dalam ruang pemberitaan.

“Pendekatan wacana kritis membantu kita menemukan bias, stereotip, dan manipulasi dalam pemberitaan politik,” ujarnya dalam riset Political Discourse in Media Space, dikutip dari Jurnal JAHE 2024.

Peneliti demokrasi digital dari Centre for Media Studies Indonesia, Rizky Kurniawan, menegaskan disinformasi menjadi instrumen retorika politik yang efektif. “Banyak pesan politik dibungkus secara meyakinkan meski data faktualnya minim,” katanya melalui publikasi di ResearchGate, 2024.

Sosiolog komunikasi Universitas Airlangga, Dr. Nurhayati R., menilai fenomena tersebut berpotensi menjauhkan publik dari kebenaran. “Kita sedang hidup di zaman Sofistik baru — ketika kebenaran bisa kalah oleh yang paling pandai berbicara,” ujarnya dalam seminar Etika Publik dan Kebenaran Digital di Surabaya, 12 September 2025.

Di tengah arus informasi yang kian padat, para peneliti menekankan perlunya verifikasi dan tanggung jawab etis untuk menjaga kualitas wacana publik.***