1. Menarik dan memperbaiki konten dengan menghadirkan wawancara langsung bersama kiai dan santri.
  2. Menyampaikan permintaan maaf terbuka di media nasional.
  3. Membangun kolaborasi edukatif, agar media memahami pesantren sebagai ruang pendidikan yang inspiratif, bukan bahan sensasi.

Sementara MP3I mengeluarkan pernyataan serupa melalui surat yang ditujukan ke seluruh wilayah Indonesia. Mereka menuntut Trans7 meminta maaf di media nasional, meminta KPI dan Kementerian Komunikasi Digital menjatuhkan sanksi, serta menyerukan penegakan hukum atas dugaan pencemaran nama baik institusi pendidikan Islam.

Trans7 Akui Keteledoran

Setelah desakan terus menguat, Trans7 akhirnya menyampaikan permohonan maaf resmi pada Selasa (14/10).

Dalam surat bernomor 399/DSMA-PR/25 yang ditujukan kepada HM. Adibussholeh, Pimpinan Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat Lirboyo, manajemen Trans7 mengakui adanya keteledoran dalam penayangan konten tersebut.

“Trans7 menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada segenap kiai, pengasuh, santri, serta alumni PP Lirboyo,” tulis surat yang ditandatangani Andi Chairil (Direktur Produksi Trans7) dan Renny Andhita (Kepala Departemen Programming).

Selain melalui surat, permintaan maaf juga disampaikan secara terbuka melalui akun Instagram resmi @officialtrans7, di mana manajemen berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tim program XPOSE.

Publik kini menunggu langkah nyata stasiun televisi itu untuk menindaklanjuti janji evaluasi internal dan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat pesantren.

Karena bagi jutaan santri di seluruh Nusantara, pesantren bukan sekadar tempat belajar — melainkan rumah kebudayaan dan sumber cahaya moral bangsa.***